Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), kematangan sebuah organisasi tidak hanya diukur dari lamanya berdiri, tetapi dari kemampuannya merajut potensi sumber daya manusia dalam satu ikatan struktural yang kokoh.
Menjaga arsip kepengurusan adalah cara kita menghargai setiap butir keringat pengabdian, agar sanad perjuangan ini tetap terjaga kejernihannya dari satu periode ke periode berikutnya.
Di Kabupaten Lampung Selatan, sosok KH. Hamim Fadhil berdiri tegak sebagai saksi hidup sekaligus aktor kunci yang menjembatani berbagai periode kepemimpinan jam'iyah, mulai dari era transisi pasca-pemekaran hingga masa kemapanan organisasi saat ini.
Menyisir rekam jejak KH. Hamim Fadhil bukan sekadar aktivitas administratif, melainkan upaya menyatukan kepingan sejarah yang terserak. Lahir pada 12 Desember 1947 dan menimba ilmu di MA AHNU (Anwarul Hidayah NU) Menes, beliau telah mematri jiwanya sebagai kader Ansor sejak 1962.
Ujian sejati dimulai saat beliau mengabdi di Madrasah Al Islamiyah Karang Pucung pada 1967. Di bawah arahan Ketua PCNU saat itu, Pak Musholi STGD, Kyai Hamim muda diangkat menjadi Ketua Ranting NU Karang Pucung pada tahun 1968 untuk menyambut Pemilu 1971.
Sejarah mencatat sebuah fragmen mengharukan pasca-Pemilu 1971. Karena NU menang mutlak di Karang Pucung, intimidasi politik memaksa beliau "mengungsi".
Dengan memikul barang-barang di pundak, didampingi sang istri yang tengah hamil anak pertama sambil menggendong perbekalan, beliau berjalan kaki menembus jarak dari Karang Pucung menuju Sidomulyo. Sebuah perjalanan fisik yang sekaligus menjadi perjalanan spiritual kepatuhan pada organisasi.
Atas arahan Pak Saijam (Ketua MWCNU Sidomulyo), beliau akhirnya berlabuh di Lubuk Kamal (Way Lubuk), Kalianda, membangun peradaban baru melalui Madrasah Al Islamiyah bersama Ust. Muslim.
Jauh sebelum PCNU Lampung Selatan memiliki gedung perkantoran yang representatif, kediaman KH. Hamim Fadhil di Lubuk telah menjadi mercusuar pergerakan. Setelah menakhodai MWCNU Kalianda sejak 1982 menggantikan Tumenggung Ibrahim, beliau dipercaya menjadi Koordinator MWCNU Wilayah Timur (1985-1995).
Sebuah papan nama organisasi yang terpasang di halaman rumah beliau menjadi saksi bisu betapa beliau mewakafkan ruang pribadinya di saat pusat kepengurusan masih berada di wilayah barat.
Secara formal, nama beliau tercatat sebagai Wakil Ketua Tanfidziyah melalui SK PBNU Nomor: 145/A.II.04.d/XII/1996. Memasuki masa krusial pemekaran wilayah, beliau naik ke panggung kepemimpinan utama sebagai Ketua Tanfidziyah melalui SK PBNU Nomor: 223/A.II.04.d/IV/1998.
Namun, keteladanan sejati beliau tunjukkan saat terpilih menjadi anggota DPRD Lampung Selatan (1999-2004). Beliau menunjukkan sikap legowo khas kiai NU dengan menyerahkan tongkat estafet Ketua Tanfidziyah kepada KH. RM. Soleh Bajuri melalui SK PBNU Nomor: 223-a/A.II.04.d/11/2000.
Khidmah beliau meluas hingga ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lampung Selatan. Beliau dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua MUI Lampung Selatan 2005-2010 dan Ketua MUI Lampung Selatan selama dua periode berturut-turut, yakni pada periode 2010-2015 dan 2015-2021.
Kesetiaan KH. Hamim Fadhil terhadap jam'iyah dibuktikan dengan kehadirannya yang tak pernah absen meski nakhoda terus berganti.
Beliau bertransformasi menjadi sosok pengayom di jajaran Mustasyar secara konsisten melintasi berbagai periode:
* Periode 2013-2018: Tercatat dalam SK Nomor 332/A.II.04.d/02/2014.
* Periode 2019-2024: Tercatat dalam SK Nomor 343/A.II.04.d/04/2019.
* Masa Khidmah 2024-2029: Kembali dipercaya sebagai Mustasyar dalam SK terbaru Nomor 350/PB.01/A.II.01.45/99/06/2024.
Kini, di bawah nakhoda Rais Syuriyah Kyai Moh Ishomuddin, sosok KH. Hamim Fadhil tetap menjadi "jangkar" sejarah yang memberikan keteduhan.
Beliau berpesan agar para kader tetap fokus merawat NU Lampung Selatan tanpa perlu terganggu oleh riuh rendah dinamika organisasi di tingkat pusat. "Kita jaga, kita rawat," demikian dawuh beliau.
Keberadaan beliau menjadi bukti nyata bahwa khidmah di jam'iyah adalah perjalanan tanpa henti sebuah pengabdian tulus untuk menjaga martabat ulama agar sanad perjuangan di Lampung Selatan tetap terjaga kejernihannya bagi generasi masa depan.
"Nahdlatul Ulama adalah rumah besar para ulama. Mengurusnya perlu ketulusan, merawatnya butuh kesabaran. Mari kita pastikan bahwa setiap langkah kita di jam'iyyah ini senantiasa menyambung dengan sanad perjuangan para sesepuh, demi tegaknya marwah organisasi yang bersih dan bermartabat."

1 Komentar
Lampung selatan NU nya sudah matang
BalasHapus