Ticker

6/recent/ticker-posts

KH. RM. SOLEH BAJURI, MENENUN KHIDMAH, MERAWAT JAM'IYYAH


Menilai kematangan seorang tokoh Nahdlatul Ulama tidaklah cukup hanya dengan melihat deretan jabatan mentereng di tingkat wilayah. Kekuatan kepemimpinan sejati justru seringkali lahir dari ketekunan menapaki tangga organisasi dari tingkatan yang paling dasar. KH RM Soleh Bajuri, Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotussolihin Palas, Lampung Selatan, adalah potret nyata dari perjalanan khidmah yang paripurna tersebut.

Sosok kelahiran Cikarag, Cimanggu, Cilacap, 24 April 1957 ini, tidak sekadar tampil di panggung besar. Ia adalah sosok yang merawat pengabdiannya melalui kedisiplinan administratif yang menjadi teladan bagi kader jam'iyyah.

Jejak langkah Kiai Soleh di tanah Lampung adalah perwujudan kepatuhan seorang santri terhadap mandat gurunya. Usai menuntaskan masa tholabul ilmi di Pesantren Al-Anwar Maron, Purworejo (1980-1985), beliau memikul amanah dakwah yang bermuara dari mandat KH. Djarir Sufyan (Cigaru).

Kala mengawali pengabdian di Desa Bumi Restu, Kiai Soleh mengaku sama sekali tidak terbersit niat untuk mendirikan lembaga besar. Namun, realitas sosial berkata lain. Tepat pada 18 Mei 1989, berdirilah Pondok Pesantren Roudlotussolihin, sebuah institusi yang kini menjadi benteng pendidikan salaf dan Tahfidzul Qur’an di Lampung Selatan.

Kepemimpinan Kiai Soleh teruji dalam sejarah panjang administrasi NU di Lampung. Beliau mengawali khidmah sebagai Ketua MWCNU Palas (1989). Kedalaman peran beliau terlihat saat transisi organisasi yang cukup kompleks:

* Koordinator Wilayah Timur: Beliau pernah didapuk menjadi Ketua Koordinator PCNU Wilayah Timur saat Lampung Selatan masih bergabung dengan Tanggamus.

* Pemisahan PCNU Lamsel: Dalam pertemuan historis di kediaman Mbah Syukron yang dihadiri Ketua PWNU KH Husnan Mustofa Ghufron, diputuskan pemisahan PCNU Lampung Selatan. Beliau kemudian diamanahi sebagai Sekretaris mendampingi KH Hamim Fadhil.

* Pilihan Khidmah: Saat terjadi dinamika pendirian partai (PKB), beliau menunjukkan integritas dengan memilih fokus di jalur jam'iyyah sebagai Ketua PCNU, sementara peran politik diserahkan kepada rekan seperjuangan.

* Eskalasi Wilayah: Sebelum memimpin sebagai Ketua PWNU Lampung (2012-2017), beliau telah mengabdi sebagai Wakil Ketua PWNU (2008-2012) di bawah kepemimpinan KH Ngaliman Marzuki.

Di balik jubah kiai dan jas organisasi, Kiai Soleh adalah pembelajar yang gigih. Semangat intelektualnya dibuktikan dengan menempuh studi hingga jenjang Doktoral (S3). Meski saat ini tinggal menyelesaikan disertasi, langkah ini menunjukkan bahwa bagi beliau, ilmu pengetahuan adalah proses yang tak boleh berhenti.

Dalam ranah spiritual, kiprah beliau telah menasional. Saat ini, beliau mengemban amanah sebagai Wakil Rais Aam PB JATMI (Jam’iyah Ahli Thoriqoh Mu’tabarah Indonesia). Sebagai Mursyid TQN, beliau mampu menyeimbangkan keteguhan spiritual dengan kecakapan memantau denyut informasi di era digital. Teknologi baginya hanyalah instrumen untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan.

KH. RM. Soleh Bajuri mengajarkan bahwa khidmah di Nahdlatul Ulama adalah perpaduan antara ketulusan batin dan ketertiban kerja. Dari meja sekretariat hingga kursi mustasyar, dari ranah lokal hingga nasional di PB JATMI, beliau membuktikan bahwa marwah jam’iyyah dijaga dengan disiplin dan adab. Beliau adalah penjaga harmoni yang terus menenun keberkahan bagi Bumi Lampung.

"Kepemimpinan di NU tidak lahir dari proses instan. Ia ditempa melalui kedisiplinan administratif dari tingkat MWC hingga wilayah. Setiap lembar SK bukan sekadar surat tugas, melainkan dokumen sejarah pengabdian yang harus dijalankan dengan tertib dan penuh tanggung jawab."

Posting Komentar

0 Komentar