Dalam perjalanan mendampingi KH. RM. Soleh Bajuri menuju Musyawarah Kubro di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, saya menemukan sebuah tesis hidup tentang bagaimana seorang pemimpin agama merespons zaman. Di dalam kabin kendaraan yang membelah jalur Trans-Jawa, Abah Yai Soleh begitu kami akrab menyapanya menunjukkan bahwa menjadi penjaga tradisi (Syuriyah) tidak berarti harus terasing dari modernitas.
Ada pemandangan yang sangat simbolik di sepanjang perjalanan: di satu waktu, jemari beliau begitu khusyuk memutar tasbih, melantunkan dzikir dalam kapasitas beliau sebagai Mursyid Tarekat Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah. Namun di waktu lain, dengan sangat natural, beliau mengoperasikan ponsel pintarnya, memantau denyut informasi digital. Fenomena ini menarik; beliau mematahkan stigma kaku ulama sepuh. Bagi Abah Yai Soleh, tasbih dan teknologi adalah dua instrumen yang sama-sama bisa digunakan untuk mengabdi pada umat.
Momen "asik" ini mencapai puncaknya di pelataran Masjid BSI Bakauheni, di bawah bayang-bayang Menara Siger yang ikonik. Sambil menunggu rombongan PCNU Mesuji, Lampung Barat, dan Lampung Utara, beliau dengan sangat terbuka diajak membuat vlog singkat. Tanpa naskah, mengalir begitu saja, beliau menitipkan tiga wasiat fundamental: keteguhan menjalankan syariat, kemurnian niat (ikhlas), dan orientasi akhir hidup yang mulia (husnul khatimah). Ini adalah pesan sosiologis-religius yang melampaui batas organisasi.
Setibanya di Lirboyo, kami tidak hanya menyaksikan sebuah kegiatan struktural, melainkan sebuah kepulangan spiritual. Abah Yai Soleh, yang lahir di Cilacap pada 1957, mengenang Lirboyo sebagai rahim memori tempat beliau menikahkan putranya dan tempat beliau berjuang di jajaran PCNU puluhan tahun silam saat Muktamar NU digelar di sana. Perjalanan kariernya dari akar rumput (Cabang) hingga menjadi pilar di wilayah (Mustasyar PWNU Lampung) adalah bukti kesetiaan pada proses.
Adab pun diletakkan di atas segalanya. Sebelum melangkah lebih jauh, beliau memandu rombongan untuk ziarah ke makam para muasis Lirboyo. Di sana, terjadi kolaborasi spiritual yang indah: KH. Abdullah Juremi (Rais Syuriyah PCNU Tulang Bawang) memimpin tawasul, sementara Abah Yai Soleh sendiri yang menutupnya dengan doa. Di depan pusara para guru bangsa itu, segala atribut jabatan terasa luruh, menyisakan kerendahan hati seorang santri.
Melalui sosok KH. RM. Soleh Bajuri, kita belajar bahwa Nahdlatul Ulama tetap tegak karena memiliki "paku bumi" yang dinamis. Beliau adalah prototipe kiai masa kini: teguh pada akar spiritualitas, namun lentur mengikuti arus zaman. Dari Bumi Restu, Palas, hingga ke Lirboyo, beliau memastikan bahwa marwah jam’iyyah tidak hanya dijaga melalui kebijakan di atas kertas, tapi melalui keteladanan yang sejuk, terbuka, dan asik di mata jamaah maupun publik secara luas.
Tabik.

0 Komentar