Ticker

6/recent/ticker-posts

KHIDMAH TANPA HENTI DAN MARWAH KEMANDIRIAN DARI LAMPUNG TIMUR


Di dalam kabin kendaraan yang membelah jalanan Jawa menuju Lirboyo, obrolan kami mengalir jauh ke belakang, menyusuri lorong waktu tahun 2005. Saat itu, Marga Sekampung baru saja mekar dari Kecamatan Jabung, Lampung Timur. Di tengah kondisi wilayah yang masih belia dan minim Sumber Daya Manusia (SDM), seorang Hasan Munawir, S.Pd., diminta berdiri di depan untuk menakhodai MWCNU Marga Sekampung. Sebuah tugas "babat alas" yang tidak hanya menuntut ketahanan fisik, tapi juga ketabahan batin yang luar biasa.

Ketika saya bertanya tentang ketakutan terbesarnya saat mengawali langkah di wilayah baru tersebut, jawabannya sungguh menggetarkan. Bukan soal penolakan warga atau keterbatasan logistik yang beliau cemaskan, melainkan sebuah kegelisahan spiritual yang mendalam. "Ketakutan yang sering saya alami adalah merasa tidak mampu karena kurangnya ilmu saya," kenang beliau dengan nada tawadhu. Namun, justru dari rasa "faqir" itulah muncul kekuatan untuk terus mendatangi (Turba) setiap jengkal ranting. Beliau sadar betul, jika ilmu terbatas, maka silaturahmi harus diperluas.

Ketulusan ini menjadi senjata paling ampuh saat menghadapi resistensi sosiologis di awal perjuangan. Kala itu, banyak warga yang secara amaliah sudah Aswaja namun enggan berorganisasi di bawah bendera NU. Bahkan, beliau sempat menemui kalimat pedas yang menguji kesabaran: "Wes ngene wae, gak usah NU-NU-an". Menghadapi skeptisisme tersebut, Kiai Hasan memilih jalur "Diplomasi Teras Rumah". Beliau tidak segan mendatangi rumah para tokoh satu per satu hanya untuk sekadar mengajak mengobrol santai. Baginya, secangkir kopi di teras rumah mampu meruntuhkan gunung prasangka yang tak bisa diselesaikan di podium formal.

Strategi "sentuhan hati" ini pula yang melahirkan keajaiban dalam kemandirian fisik organisasi. Menyadari kantor lama berdiri di atas lahan Register 38 yang status hukumnya terbatas, beliau bersama jajaran pengurus mengambil langkah visioner: mencari lahan bersertifikat demi legalitas jangka panjang. Sebuah bangunan representatif senilai Rp440 juta akhirnya disepakati untuk dibeli secara mandiri.

Bukan lewat proposal instan, melainkan lewat keringat kolektif. Seluruh elemen Keluarga Besar NU (KBNU) Marga Sekampung—mulai dari pengurus lembaga, badan otonom, hingga seluruh ranting—bergerak bersama menyisihkan iuran hingga aset tersebut berhasil dilunasi dalam kurun waktu 6 tahun. Gedung lantai dua yang kini berdiri tegak itu bukan sekadar tumpukan batu bata, melainkan monumen harga diri warga Nahdliyin yang tak mau bertopang dagu.

Kini, sebagai Katib Syuriyah PCNU Lampung Timur, spirit kemandirian ini telah menjadi konsensus kolektif seluruh jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah. Sikap tegak lurus ini teruji nyata saat jajaran PCNU Lampung Timur disambangi oleh Bupati dan Ketua DPRD setempat beberapa waktu lalu. Di tengah tren organisasi yang kerap bergantung pada sokongan dana hibah daerah, jajaran PCNU Lampung Timur justru menunjukkan teladan kepemimpinan yang langka dengan meminta pemerintah fokus pada program prioritas rakyat yang sudah ada.

"Untuk bantuan ke NU yang sifatnya hibah resmi, tidak usah dianggarkan," demikian sikap tegas yang diambil secara kolegial. Bagi mereka, menjaga jarak aman dari ketergantungan anggaran adalah cara terbaik untuk menjaga kemurnian suara ulama agar tetap independen dan bermartabat.

Namun, di balik kegagahan pengabdian itu, tersimpan kisah haru tentang keikhlasan keluarga. Selama dua dekade berkhidmah, keluarga Kiai Hasan telah sepakat meletakkan kepentingan pribadi di nomor sekian setelah urusan Nahdlatul Ulama. Pemandangan paling menyentuh terekam saat Musyawarah Kubro di Lirboyo kemarin. Putri beliau yang mukim di Mojokerto rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk bertemu sang ayah di tengah hiruk-pikuk acara.

Karena padatnya agenda kiai, pertemuan itu hanya berlangsung singkat—tiga menit saja. Namun, bagi sang putri, tiga menit itu sudah cukup asalkan bisa menjabat dan mencium tangan ayahnya yang sedang berjuang di medan khidmah. Seulas senyum ikhlas dari sang putri menjadi bahan bakar tambahan bagi Kiai Hasan untuk terus melangkah.

Perjalanan kami menuju Lirboyo menegaskan satu hal: bahwa marwah Nahdlatul Ulama tetap tegak karena dijaga oleh orang-orang seperti Kiai Hasan Munawir dan jajaran PCNU Lampung Timur. Orang-orang yang merasa kecil di hadapan tanggung jawab, namun tampak raksasa dalam pengabdian. Marga Sekampung dan Lampung Timur kini menjadi saksi nyata, bahwa kemandirian bukan sekadar soal angka di rekening, melainkan soal ketulusan yang dimulai dari doa di meja makan keluarga hingga ke meja musyawarah jam'iyyah.

Posting Komentar

0 Komentar