Ticker

6/recent/ticker-posts

Jejak Awal Lahirnya Majelis Dzikir & Ta'lim Annahdloh


"Setiap ikhtiar besar selalu memiliki kisah permulaannya."

Oleh:Edi Sriyanto 

Tidak semua ikhtiar lahir dari sebuah musyawarah resmi atau keputusan yang telah dirancang dengan matang. Ada kalanya sebuah gagasan tumbuh dari percakapan sederhana dalam sebuah perjalanan, kemudian berkembang menjadi ikhtiar yang memberi manfaat bagi banyak orang. Demikian pula kisah lahirnya Majelis Dzikir & Ta'lim Annahdloh.

Awal kisah itu bermula pada Sabtu, 10 April 2026. Siang itu, saya dan Kyai Abdul Aziz At-Tarmasie melakukan perjalanan dari Sidomulyo menuju Desa Sidoharjo, Kecamatan Way Panji, Kabupaten Lampung Selatan.

Tujuan perjalanan tersebut adalah menghadiri kegiatan rutin Pengajian Sabtu Pahing yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muslimat Nahdlatul Ulama Desa Sidoharjo. Dalam kegiatan tersebut, Kyai Abdul Aziz mendapat amanah untuk menyampaikan mau'idzah hasanah.

Perjalanan menuju lokasi pengajian berlangsung sebagaimana biasanya. Namun, di tengah perjalanan itulah mengalir sebuah percakapan yang kemudian menjadi titik awal lahirnya sebuah ikhtiar. Kyai Abdul Aziz menyampaikan keinginannya untuk menghadirkan sebuah majelis yang diselenggarakan secara rutin.

Menurut beliau, majelis tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat berkumpul untuk mengikuti pengajian, tetapi juga menjadi ruang mempererat silaturahmi, menghidupkan dzikir, memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad saw., serta memperdalam kajian keislaman yang berakar pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.

Gagasan itu saya sambut dengan penuh antusias. Saya meyakini bahwa majelis yang diselenggarakan secara istiqamah akan menjadi sarana yang efektif untuk memperkuat ukhuwah, menumbuhkan kecintaan kepada ilmu, sekaligus merawat tradisi keagamaan yang selama ini menjadi ruh Nahdlatul Ulama.

Pada saat itu, pembicaraan kami belum menyentuh hal-hal teknis. Nama majelis belum ditetapkan, waktu pelaksanaan belum diputuskan, dan bentuk kegiatannya pun masih berupa gagasan-gagasan awal. Akan tetapi, niat untuk menghadirkan sebuah majelis yang memberi manfaat bagi masyarakat telah tumbuh dengan jelas.

Seiring berjalannya waktu, gagasan tersebut terus dimatangkan melalui berbagai pembicaraan. Nama Majelis Dzikir & Ta'lim Annahdloh kemudian dipilih sebagai identitas majelis. Kata Annahdloh, yang berasal dari kata Arab an-nahḍah, bermakna kebangkitan. Bukan semata-mata kebangkitan dalam arti organisasi, melainkan kebangkitan ruhani, kebangkitan ilmu, kebangkitan akhlak, dan kebangkitan semangat untuk merawat persaudaraan dalam bingkai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.

Ikhtiar itu akhirnya diwujudkan melalui penyelenggaraan Majelis Dzikir & Ta'lim Annahdloh untuk pertama kalinya pada Jum'at Kliwon, malam Sabtu Legi, 21 Dzulqa'dah 1447 Hijriah bertepatan dengan 8 Mei 2026. Sejak saat itu, majelis ini menjadi ruang bersama untuk berdzikir, bershalawat, mempelajari hadis melalui pengajian Shahih al-Bukhari, sekaligus mempererat tali silaturahmi di antara jamaah.

Jika menoleh kembali ke belakang, perjalanan dari Sidomulyo menuju Desa Sidoharjo pada 10 April 2026 tampak seperti perjalanan dakwah pada umumnya. Namun, perjalanan itulah yang menjadi saksi lahirnya sebuah gagasan yang kemudian berkembang menjadi sebuah ikhtiar nyata. 

Dari percakapan yang berlangsung sederhana di dalam kendaraan, tumbuh tekad untuk menghadirkan majelis yang menghidupkan dzikir, memperluas majelis ilmu, mempererat ukhuwah, serta menguatkan khidmah kepada agama, masyarakat, dan Nahdlatul Ulama.

Semoga Majelis Dzikir & Ta'lim Annahdloh senantiasa istiqamah menjadi ruang bertemunya dzikir, ilmu, dan persaudaraan; menjadi tempat tumbuhnya generasi yang mencintai ulama, mengamalkan ilmu, serta menjaga nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah demi kemaslahatan umat.

Tabik.

Posting Komentar

0 Komentar