Ticker

6/recent/ticker-posts

Segelas Teh Kelor Dan Jalan Pulang Menjadi Manusia


Oleh: Edi Sriyanto.

Pagi selalu datang dengan wajah yang sama, tetapi tidak pernah menjumpai manusia yang sama. Ada pagi yang berlalu begitu saja sebagai rutinitas, ada pula pagi yang diam-diam berubah menjadi ruang perenungan, ketika hal-hal yang tampak sederhana justru menyimpan makna yang paling dalam. 

Mungkin karena itulah saya percaya bahwa pilihan pertama di awal hari tidak pernah sekadar soal selera. Apa yang kita seduh, apa yang kita dengarkan, bahkan ke mana langkah pertama diarahkan, sering kali memperlihatkan arah batin yang sedang kita tempuh.

Pagi ini saya memilih segelas teh kelor.

Ia tidak menawarkan aroma yang sekuat kopi. Ia juga bukan minuman yang lahir dari budaya yang gemar dipamerkan di meja-meja kafe. Kelor tumbuh di halaman rumah-rumah sederhana, akrab dengan tanah yang keras, jauh dari kemewahan, tetapi hampir seluruh dirinya menghadirkan manfaat. Seakan-akan ia mengajarkan satu hukum yang perlahan dilupakan manusia modern: yang paling berguna sering kali tumbuh tanpa keinginan untuk dikagumi.

Saya memandang uap tipis yang naik perlahan dari permukaan cangkir. Teh kelor tidak membangunkan kesadaran dengan hentakan, melainkan mengundangnya duduk lebih dahulu. Diam. Memberi ruang bagi pikiran untuk mendengar sesuatu yang selama ini tenggelam oleh hiruk-pikuk kehidupan.

Tak lama kemudian, musik mulai mengalun.

Lagu pertama adalah Janji dari GIGI. Anehnya, pagi ini saya tidak mendengarnya sebagai kisah dua insan yang saling mengikat hati. Kata janji justru membawa pikiran kepada ikatan yang lebih tua daripada semua kontrak yang pernah dibuat manusia.

Gotong royong tidak pernah lahir dari tanda tangan di atas kertas. Ia hidup dari kesediaan orang-orang memegang janji yang tak pernah diucapkan: ketika lingkungan membutuhkan tenaga, seseorang tidak bersembunyi di balik kesibukan; ketika kehidupan bersama membutuhkan perhatian, setiap orang bersedia memikul tanggung jawabnya.

Di situlah letak kemuliaan gotong royong. Ia bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan kesetiaan pada janji-janji sosial yang membuat sebuah kampung tetap layak disebut rumah bersama.

Musik kemudian berganti. Instrumen Goddess of the Sea karya Jimena Contreras mengalir tanpa lirik. Justru karena tidak membawa kata-kata, ia membiarkan pikiran berjalan ke tempat yang lebih sunyi.

Laut tidak pernah bertanya dari gunung mana sungai berasal. Air yang jernih maupun keruh akhirnya kehilangan nama ketika tiba di pelukannya. Semuanya diterima, semuanya dilebur, semuanya menjadi bagian dari keluasan yang sama.

Bukankah gotong royong juga demikian?

Tidak semua orang datang dengan tenaga yang sama. Tidak semua memiliki kemampuan yang sama. Tidak semua membawa watak yang sama. Namun ketika kepentingan bersama menjadi tujuan, perbedaan berhenti menjadi alasan untuk saling menjauh.

Di hadapan samudra, setiap sungai belajar melepaskan kesombongan asal-usulnya.

Di tengah gotong royong, setiap manusia belajar melepaskan kebanggaan atas dirinya sendiri.

Sementara teh kelor menghangatkan tubuh dan musik menenangkan jiwa, saya merasa pagi sedang mengajarkan bahwa kehidupan tidak selalu meminta kita menjadi yang paling menonjol. Yang lebih penting adalah menjadi bagian yang mampu menyatu dengan kebaikan bersama.

Petikan gitar Sweet Child O' Mine kemudian memecah keheningan.

Banyak orang mengenangnya sebagai lagu cinta. Pagi ini saya justru mendengarnya sebagai ajakan untuk pulang kepada kepolosan.

Seorang anak tidak pernah membantu karena berharap dikenang. Ia belum mengenal hitung-hitungan untung dan rugi. Ia memberi karena baginya memberi adalah sesuatu yang wajar.

Barangkali kedewasaan bukan semata-mata bertambahnya usia. Kedewasaan justru diukur dari kemampuan menjaga kepolosan hati di tengah dunia yang semakin gemar memperdagangkan segala sesuatu.

Gotong royong kehilangan ruhnya ketika berubah menjadi panggung untuk mencari pujian. Sebaliknya, ia menemukan maknanya ketika setiap orang bekerja tanpa merasa dirinya lebih penting daripada pekerjaan itu sendiri.

Playlist pagi ditutup oleh Ham Burger dari SLANK.

Di sinilah ironi zaman berdiri tanpa perlu banyak penjelasan.

Peradaban modern semakin mahir menciptakan kenyamanan, tetapi perlahan kehilangan kebiasaan untuk saling menghadirkan diri. Kita dapat memesan makanan hanya dengan sentuhan jari, tetapi tidak ada aplikasi yang mampu menghadirkan ketulusan seorang tetangga ketika rumah kita tertimpa musibah.

Teknologi memang mempercepat transaksi, tetapi tidak pernah berhasil mempercepat lahirnya kepercayaan. Kepercayaan hanya tumbuh dari perjumpaan, dari peluh yang dikeluarkan bersama, dan dari tangan-tangan yang bekerja tanpa sibuk menghitung siapa yang paling berjasa.

Saya lalu mengangkat kantong teh kelor dari dalam cangkir.

Warnanya telah berpindah ke dalam air. Daun-daunnya tetap tersembunyi di balik kertas tipis, seolah rela kehilangan dirinya agar orang lain menikmati sari yang ditinggalkannya.

Saya memandang cangkir itu beberapa saat.

Barangkali pengabdian memang bekerja dengan cara seperti itu. Ia tidak sibuk mempertahankan bentuknya sendiri. Justru ketika perlahan larut menjadi manfaat bagi kehidupan yang lebih luas, di situlah ia menemukan maknanya.

Bukankah pohon kelor juga demikian?

Ia tidak pernah tumbuh untuk dikagumi seperti bunga. Ia tidak menawarkan keharuman yang memikat atau warna yang memanjakan mata. Namun hampir seluruh dirinya menghadirkan kemanfaatan bagi kehidupan.

Mungkin karena itulah pagi ini saya memilih segelas teh kelor sebelum berangkat gotong royong. Bukan karena ingin tampak berbeda. Bukan pula karena sedang mengikuti gaya hidup tertentu. Melainkan karena secangkir teh itu mengingatkan saya pada satu pelajaran yang semakin langka di tengah zaman yang gemar menampilkan diri.

Bahwa kehidupan tidak sedang mencari manusia yang paling banyak terlihat.

Kehidupan sedang menunggu lebih banyak manusia yang bersedia menghadirkan manfaat, menyatu dengan sesamanya, lalu melangkah pergi tanpa merasa dunia berutang tepuk tangan kepada dirinya.

Tabik.

Posting Komentar

0 Komentar