Ticker

6/recent/ticker-posts

VENTILASI SPIRITUAL DI TEPIAN ARUS SEJARAH BRANTAS

M


Memasuki jantung Kota Kediri di pagi hari akhir pekan memberikan pengalaman tentang harmoni keteraturan. Di satu sisi, keriuhan positif nampak di area Dhoho Car Free Day (CFD) yang berpusat di Jalan Dhoho setiap Minggu pagi pukul 06.00 hingga 09.00 WIB. Namun, berkat pengaturan lalu lintas yang sigap dari petugas Satlantas Polres Kediri Kota, kemeriahan warga yang berolahraga tersebut sama sekali tidak mengganggu akses maupun kekhusyukan jamaah yang hendak menjemput berkah di rumah Allah.

Perjalanan kami menuju Jalan Panglima Sudirman No. 160 berjalan mulus hingga sampai di pelataran Masjid Agung Kota Kediri. Ada sebuah harmoni unik yang saya rasakan; meskipun kota sedang berdenyut dengan aktivitas publik, masjid yang didirikan pertama kali pada tahun 1771 ini tetap terjaga dalam sunyi yang khidmat. Sisa-sisa kekhusyukan pengajian rutin pagi yang baru saja usai nampak masih membekas di udara, seolah menjadi filter alami yang memisahkan keriuhan duniawi dengan ketenangan ukhrawi.

Sesaat setelah memarkirkan mobil di samping ambulans masjid—sebuah simbol kesiagaan sosial jam’iyyah—saya sempat berbincang singkat dengan juru parkir setempat. Dalam obrolan santai khas santri tersebut, saya menanyakan perihal keberadaan makam yang berada di dekat lokasi masjid. Beliau menjelaskan dengan santun bahwa itu adalah makam para sesepuh masjid, sembari menunjukkan jalan setapak menuju lokasi ziarah. Sayangnya, karena keterbatasan waktu untuk segera "merapat" ke Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, saya harus merelakan niat untuk berziarah lebih lama maupun mengunjungi perpustakaan masjid guna menggali informasi lebih mendalam.

Usai menunaikan shalat sunnah dua rakaat, saya tertegun sejenak menikmati perpaduan interior dan eksterior masjid. Ada satu hal yang sangat terasa merasuk ke sukma: semilir angin sejuk yang datang dari arah Sungai Brantas. Letak masjid yang tepat di pinggir sungai legendaris ini bukan sekadar kebetulan geografis. Saya merasakan betul kaitan erat antara aliran Brantas dengan sejarah penyebaran Islam di Kediri; sungai ini dahulu adalah urat nadi peradaban bagi para pendakwah untuk membawa cahaya iman ke pedalaman Mataraman.

Di sini, arsitektur masjid seolah menyatu dengan alam dan tradisi. Perpaduan banyak pilar di serambi dengan atap joglo khas Jawa serta kubah berenamel hijau kebiru-biruan setinggi 49 meter menciptakan ventilasi spiritual yang lapang. Masjid terbesar di Kediri ini pun tetap setia mempertahankan mimbar aslinya yang hanya pernah direnovasi sekali demi menjaga keaslian nilai sejarahnya.

Kunjungan singkat ini memberikan pelajaran berharga bagi saya. Kediri membuktikan bahwa kemajuan aktivitas publik bisa berjalan selaras dengan khidmah keagamaan tanpa harus saling menginterupsi. Masjid Agung Kediri bukan sekadar bangunan berusia lebih dari 200 tahun; ia adalah bukti nyata bagaimana Islam tumbuh subur di pinggir sungai sejarah, menyerap kearifan lokal, dan tetap berdiri tegak sebagai pusat peradaban yang menyejukkan.

Posting Komentar

0 Komentar