Ticker

6/recent/ticker-posts

KHIDMAT SHALAWAT DAN BARISAN SANTRI DI SIDOMULYO


Sinar matahari di Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Sabtu (31/1/2026), terasa lebih teduh dari biasanya. Di halaman belakang Kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Sidomulyo, ribuan warga Nahdliyyin berkumpul dengan satu napas yang sama: mensyukuri satu abad perjalanan Nahdlatul Ulama dalam penanggalan masehi. Peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan penegasan bahwa di tingkat akar rumput, NU tetap menjadi rumah bagi spiritualitas sekaligus benteng bagi masa depan bangsa.

Rangkaian acara dibuka dengan Majelis Shalawat Qubro (Masbro) yang diinisiasi oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Sidomulyo. Suasana kultural begitu kental terasa saat satu per satu grup hadroh menaiki panggung. Tidak kurang dari 50 grup hadroh menunjukkan dedikasinya dalam mensyiarkan kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.

Nama-nama grup hadroh yang tampil membawa kebanggaan daerah masing-masing. Sebut saja grup hadroh Nurul Islam dari Dusun Umbul Keong (Sidomulyo), Nurul Husna dari Pabuaran (Suka Banjar), hingga Al-Istiqomah dari Jogja (Sidorejo) dan Nurul Azizah dari Kediri (Sidorejo). Ada pula kemeriahan dari Khoirun Nisa (Pati, Sidodadi), Mambaus Salam (Malang, Sidorejo), Darul Aini (Ponorogo, Sidorejo), serta Nurul Falah dari Seloretno.

Syiar ini meluas hingga ke Budidaya melalui grup Mahabbatain (Sarinulyo) dan Banatul Istiqomah (Masjid Besar SDM). Dari Sidowaluyo, hadir grup Nurus Saadah (Kedu), Darun Nisa' (Lokal), Miftahul Huda (Cirebon), Qurrota Aini (Besuki), Al-Istiqomah (Jogja), Hasnul Khotimah (Pekalongan), dan Nurul Iman (Kalidaman). Tak ketinggalan partisipasi dari Wasilatul Mustofa (Kedondong, Sidodadi), Al-Hidayah (Sidorejo), An-Naja (Spontan, Sidorejo), Al-Muawanah (Candipuro), hingga grup Annabah Darussalam (Ketibung Atas, Sidomulyo), Miftahul Jannah (Kali Bening, Sidomulyo), dan Al-Barokah (Kolonis, Sidomulyo).

Daftar khidmat ini kian panjang dengan kehadiran grup Roudhotun Nisa (Ketibung I, Sidomulyo), As-Salwa (Purwodadi, Sidomulyo), Alfu Nun (Kampung Baru, Sukabanjar), Nurul Barokah (Buatan, Suak), Asyifa Al-Hidayah (Labuhan, Suak), Nurul Huda (Kelapa Tiga, Suak), serta Al-Asyiq (Cukuh Mutun, Suak). Kebanggaan juga dibawa oleh grup Riyadul Mubtadiin (Sandaran, Sukabanjar), Nurul Badriyah (Krajan, Sidodadi), Karomatul Hidayah (Desa Suak), Rahmah Hidayat (Kec. Sidomulyo), Sabilul Muttaqin (Sidorejo), Nurul Musyafa'ah (Jogja, Sidorejo), Roudlotul Auliya (Bumilat, Sukabanjar), Nur Thoyibatur Rohmah (Gang Subur, Sidodadi), Mahabbatur Rosul (Bandan Dalam), hingga Mardhotillah dari Siring Jaha.

Usai ruhani dikuatkan dengan shalawat, siangnya halaman belakang Kantor MWCNU kembali riuh dengan semangat generasi muda. Lebih dari 20 lembaga pendidikan yang terdiri dari TPA, TPQ, dan Pondok Pesantren se-Kecamatan Sidomulyo bersiap mengikuti pawai karnaval. Keputusan pengurus untuk melakukan pelepasan di halaman belakang kantor adalah bentuk kearifan lokal agar mobilisasi massa tidak mengganggu ketertiban umum di jalur utama depan kantor.

Prosesi pelepasan berlangsung sakral. Ketua MWCNU Sidomulyo, Ust. Giyarno, mengangkat bendera NU didampingi jajaran Syuriyah yang memegang Merah Putih. "Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, pawai ini dilepas. Harapannya, generasi santri ini kelak menjadi benteng ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di masa depan," tegas Ust. Giyarno.

Barisan memanjang yang terdiri dari santri, wali santri, hingga mobil-mobil berseragam Muslimat dan Fatayat, menjadi pemandangan "Ijo Royo-Royo" yang tertib melewati rute mulai dari Lapangan Sepak Bola Sidorejo, Masjid Al-Falah, melintasi SDN Seloretno dan Pasar Sidomulyo, hingga kembali ke titik awal.

Keberhasilan rangkaian acara ini tak lepas dari peran Banser dan jajaran pengurus harian. Sekretaris MWCNU Sidomulyo, Irfan Prasetya, turun langsung menggunakan kendaraan roda dua untuk memimpin koordinasi personil Banser di sepanjang rute pawai guna memastikan keamanan jamaah dan pengguna jalan. Di sela-sela keramaian, tampak pula geliat ekonomi umat melalui para pedagang kecil yang memenuhi sekitar aula dan halaman belakang kantor.

Keberhasilan rangkaian acara yang berjalan simultan sejak pagi hingga sore ini membuktikan satu hal: kekuatan NU Sidomulyo terletak pada kemandirian dan militansi warganya. Tanpa perlu menoleh pada hiruk-pikuk panggung formalitas, warga Nahdliyyin di sini telah menunjukkan cara terbaik mencintai organisasi, yakni dengan kerja nyata dan khidmat yang tulus.

Dari gema terbang hadroh yang menyentuh langit hingga langkah kaki ribuan santri yang membumi di jalanan, Sidomulyo telah mengirimkan pesan kuat. Di bawah naungan bendera NU dan Merah Putih, mereka telah siap melangkah mantap memasuki abad kedua, menjadi benteng Aswaja yang tak tergoyahkan bagi agama dan negara.

Siapa Kita...???!!!

Posting Komentar

0 Komentar