"Kedaulatan NU tidak dititipkan pada lisan pemimpinnya, melainkan pada ketertiban administrasinya. Ujian terbesar kita bukanlah badai eksternal, melainkan kerelaan para pucuk pimpinan untuk kembali tunduk di bawah otoritas AD/ART sebagai satu-satunya jalan menjaga marwah kiai dan martabat jam'iyyah."
Perhelatan Satu Abad NU di Istora Senayan, Sabtu (31/1), adalah potret magnitudo luar biasa dari sebuah jamaah. Namun, bagi kita yang mencintai jam’iyyah secara struktural, gempita tersebut menyisakan ruang muhasabah yang mendalam.
Absennya Rais ‘Aam KH Miftachul Akhyar serta dinamika kehadiran pemimpin negara bukan sekadar urusan protokoler, melainkan momentum untuk menengok kembali "kitab suci" organisasi: AD/ART dan Peraturan Perkumpulan (Perkum).
Menuju Muktamar ke-35 yang telah dijadwalkan pada pertengahan tahun ini, ada tiga poin fundamental yang perlu kita dudukkan secara proporsional demi menjaga martabat NU:
1. NU bukan organisasi dengan sistem kepemimpinan tunggal. Berdasarkan Perkum No. 4 Tahun 2022 Pasal 3, kedudukan Syuriyah adalah pengendali kebijakan. Setiap langkah strategis, termasuk keterlibatan dalam inisiatif global seperti Board of Peace (BoP), harus berpijak pada keputusan kolektif-kolegial yang melibatkan Rais 'Aam. Menjaga prosedur ini bukan berarti menghambat langkah Tanfidziyah, melainkan memastikan bahwa setiap gerak organisasi memiliki legitimasi syar’i dan organisatoris yang utuh.
2. Keterlibatan NU dalam diplomasi internasional adalah keniscayaan. Namun, ketaatan pada mekanisme internal seperti rapat pleno adalah filter agar NU tetap independen dan tidak terseret dalam pragmatisme figuratif. Di abad kedua ini, kemandirian jam'iyyah dipertaruhkan pada seberapa konsisten kita menjalankan Pedoman Administrasi (Perkum No. 15 Tahun 2022). Tertib aturan adalah benteng agar NU tidak mudah ditarik ke sana kemari oleh kepentingan eksternal yang belum tentu selaras dengan Khittah.
3. Muktamar ke-35 mendatang adalah mandat suci untuk mengembalikan segala sesuatunya ke rel yang benar. Agenda besar kita bukan sekadar suksesi kepemimpinan, melainkan Restorasi Konstitusi. Kita perlu memastikan bahwa tidak ada lagi "jalur darurat" yang menjadi kebiasaan dalam mengambil keputusan besar. Menjadikan AD/ART sebagai panglima adalah satu-satunya cara agar marwah para masyayikh tetap terjaga dan struktur jam'iyyah tetap kokoh hingga ke akar rumput.
Menyintai NU berarti berani jujur pada aturannya. Megahnya seremoni adalah syiar, namun tertib organisasi adalah nyawa. Mari kita jemput Muktamar ke-35 dengan semangat untuk kembali pada shaff yang rapi, di mana imam dan makmum tunduk pada aturan yang sama. Hanya dengan cara itulah, martabat jam'iyyah akan tetap tegak di hadapan sejarah.
Siapa Kita...???!!!

1 Komentar
Siapa kita. Nu
BalasHapus