Ticker

6/recent/ticker-posts

KEDAULATAN DAPUR DAN MANUNGGALNYA ULAMA-UMARA


Jika sejarah adalah sebuah rangkaian estafet, maka PD-PKPNU Angkatan XVII yang berlangsung pada 6-8 Januari 2023 di Desa Sidomakmur, Kecamatan Way Panji, adalah garis finis bagi keraguan dan titik start bagi kemandirian kader. 

Di wilayah yang majemuk ini, Nahdlatul Ulama tidak sekadar hadir secara administratif, melainkan menanamkan kedaulatan mentalitas yang sangat kuat melalui MI Maslahatul Ummah.

Satu hal yang paling menggetarkan dari Angkatan XVII ini adalah semangat "tuan rumah" yang ditunjukkan oleh para Kader Penggerak NU Way Panji. Di saat banyak pihak mungkin meragukan kesiapan lokal, Ust. Tarom Syaefudin sebagai motor penggerak dari Angkatan I PCNU Lampung Selatan, dengan dada tegak menyatakan sebuah komitmen yang berani: "Bagian dapur sepenuhnya menjadi tanggung jawab kami, kader lokal Way Panji."

Pernyataan ini bukan sekadar urusan logistik, melainkan manifesto harga diri organisasi di tingkat basis. Dengan mengambil peran paling krusial yaitu melayani perut para pejuang kader Way Panji menunjukkan bahwa mereka telah "lulus" dari ketergantungan.

Meski dapur telah berdaulat, arus bantuan untuk "menjemput berkah" dari kecamatan lain justru mengalir deras. Inilah indahnya persaudaraan Kader Penggerak. Sejak awal peserta berdatangan, Ust. Syaiful dan Eva Astuti dari Tanjung Bintang telah hadir membawa kendaraan pribadi. Mereka berdua, mengkoordinir Kader Penggerak NU yang akan memberikan kenang-kenangan bibit pohon sawo.

Sebuah amanah yang dijalankan dengan paripurna. Berkat kegigihan mereka, seluruh peserta mendapatkan bibit pohon sawo untuk dibawa pulang dan ditanam di wilayah masing-masing.

Di titik lain, Kader Penggerak dari Bakauheni dan Ketapang juga ikut berjibaku, mengambil peran di lini depan dan ruang instruktur, memastikan setiap sudut kegiatan berjalan tanpa cela.

Way Panji juga mencatatkan sejarah penting dalam hal penetrasi ideologi ke tingkat birokrasi desa. Kepala Desa Sidomakmur tidak hanya memberikan izin tempat, tetapi terjun langsung sebagai peserta aktif dan dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Kelas.

Tak hanya itu, Kepala Desa Bakauheni pun turut hadir melintasi batas kecamatan untuk ikut digembleng dalam satu kawah candradimuka. Hadirnya pemimpin desa di barisan peserta, didampingi oleh instruktur dari jajaran TNI, menegaskan bahwa NU adalah perekat nasionalisme yang nyata.


Kesakralan acara ini dikawal langsung oleh pimpinan tertinggi cabang sejak pembukaan. Rais Syuriyah PCNU Lampung Selatan, Kiai Ishomuddin, bersama Ketua PCNU sekaligus Instruktur, H. Nur Mahfudz, hadir memberikan penguatan ideologis.

Suasana haru mencapai puncaknya pada upacara pembaiatan. Di malam yang sunyi itu, hadir pula para saksi perjuangan dari berbagai wilayah, seperti Gus Dar (Ketua PCNU Lampung Timur), Kiai Mukhlisin (Ketua MWCNU Ketapang), serta jajaran pimpinan MWCNU lainnya termasuk dari Bakauheni. Kehadiran para pengurus lintas wilayah ini memberikan pesan kuat bahwa prosesi baiat di Way Panji memiliki resonansi spiritual yang menembus batas geografis.

Merawat Kedaulatan Way Panji telah memberikan pelajaran berharga: bahwa kedaulatan sebuah organisasi tidak selalu dimulai dari dukungan penuh struktur, melainkan dari militansi kader-kader bawah yang menolak menyerah.

 Semangat "Dapur Way Panji" yang ditopang oleh solidaritas "Bibit Tanjung Bintang" dan "Pasukan Bakauheni-Ketapang" adalah simbol bahwa ketika kader sudah bersatu dalam satu niat, kejayaan NU hanyalah tinggal menunggu waktu.

Kini, tugas kita adalah merawat bibit-bibit kedaulatan yang telah ditanam di Sidomakmur agar terus tumbuh rimbun, seperti pohon sawo yang akarnya menghujam ke bumi dan buahnya menjadi penyejuk bagi keragaman umat.

"Khidmah di NU adalah tentang saling menopang, bukan saling menumpang. Way Panji telah membuktikan bahwa kemandirian adalah mahkota tertinggi bagi setiap kader penggerak."

Siapa Kita...???!!!

Posting Komentar

0 Komentar