Ticker

6/recent/ticker-posts

SANAD KHIDMAH DI JANTUNG KABUPATEN


Kalianda bukan sekadar titik koordinat di peta Lampung Selatan. Sebagai pusat gravitasi administrasi, ia adalah etalase tempat marwah organisasi dipertaruhkan. Penyelenggaraan PD-PKPNU Angkatan XIX di Pondok Pesantren Daarul Qur'an (asuhan Kiai Syarif) pada 24-26 Februari 2023, menjadi saksi bagaimana solidaritas kader lintas kecamatan hadir untuk memastikan detak nadi organisasi di jantung ibu kota tetap stabil dan bertenaga.

Ada aroma sejarah yang kental saat bibit pohon sawo diturunkan oleh bahu-bahu kokoh para kader. Bibit-bibit kiriman Dr. Andi Warisno ini sampai ke lokasi berkat ketulusan Ust. Syaiful dan Pak Noor Tajudin dari Tanjung Bintang yang membawanya sebagai amanah perjuangan. Secara kultural, pohon sawo adalah "sandi" Laskar Diponegoro, penanda kesetiaan laskar pada garis perjuangan ulama.

Bagi kader di Kalianda, sawo adalah personifikasi dari perintah “Sawwu Sufufakum” luruskan, rapatkan barisan. Saat Kiai Syarif bersama Kiai Nawir dan H. Nur Mahfudz (Ketua PCNU) menanamnya, Pak Amirudin bersama rekan-rekan kader dari Bakauheni bersiaga penuh sebagai pembawa bendera Merah Putih dan bendera Nahdlatul Ulama.

Mereka membentuk pagar hidup yang melingkar, sebuah simbolisasi bahwa pertumbuhan Aswaja di bumi Lampung Selatan harus selalu dipayungi oleh semangat nasionalisme dan komitmen keumatan yang tak terputus.

Ketegasan organisasi nampak nyata di Stadion Jati Kalianda. Di bawah instruksi unsur TNI, para peserta dari Way Panji hingga Bakauheni melebur dalam satu irama gerak. Namun, ruh utama tetap berdenyut di ruang kelas.

Kedisiplinan fisik di lapangan hanyalah sarana untuk membentuk ketahanan mental agar mampu menjaga martabat keilmuan yang disampaikan para instruktur. Dedikasi ini terlihat jelas pada Mas Zaini Ghofur yang tetap istiqomah mengawal proses meski kondisi fisik beliau sedang menuntut jeda untuk beristirahat.

Kekuatan sejati Nahdlatul Ulama terletak pada mereka yang mampu "menambal celah" di berbagai lini. Di luar ruang materi, kita mendapati potret kesetiaan pada sosok Pak Komar (Bakauheni) yang tak pernah absen berkhidmah di dapur sejak angkatan-angkatan sebelumnya.

Sementara itu, kader militan seperti Wahyu (Angkatan XIII) dari Ketapang, bersama rekan-rekan lainnya, sigap memastikan urusan teknis dan pelayanan lainnya tetap berjalan paripurna di pos masing-masing.

Begitu pula kesigapan Mas Nizar yang mendampingi di lapangan dan Mbak Muslikhah (Tanjung Sari) yang setia menjaga ketertiban kelas. Kehadiran mereka membuktikan bahwa khidmah di NU adalah kerja kolektif yang tak mengenal kasta peran.

Puncak pendidikan ini diuji oleh alam. Hujan deras yang mengguyur Kalianda memaksa prosesi pembaiatan berpindah ke dalam ruang kelas. Namun, keterbatasan ruang justru menambah keheningan dan kekhidmatan. Di tengah dinginnya cuaca, janji setia para kader kepada ulama dan bangsa justru terasa semakin meresap dan mengakar ke dalam jiwa.

Angkatan XIX di Kalianda memberikan pelajaran berharga: kekuatan jam'iyyah ini tidak tersekat oleh batas administratif kecamatan. Keberhasilan di Pondok Daarul Qur'an adalah pembuktian bahwa dengan semangat gotong royong, NU Lampung Selatan akan terus tumbuh kokoh seperti pohon sawo yang ditanam akarnya menghujam pada tradisi, batangnya kuat menopang organisasi, dan buahnya manis dirasakan umat.

Posting Komentar

0 Komentar