Menyebut nama Desa Cugung di lereng Gunung Rajabasa adalah memanggil kembali ingatan tentang sebuah ikhtiar menaklukkan ego di atas jalan terjal. Pada 23-25 September 2022, PD-PKPNU Angkatan XIII digelar dengan suasana yang sangat khidmat di Pondok Pesantren Miftahul Barhasyin.
Di bawah asuhan Kiai Muhammad Gufroni, yang saat itu mengemban amanah ganda sebagai Rais Syuriyah MWCNU Rajabasa sekaligus pengasuh pesantren, momen ini menjadi perjalanan ruhani untuk menjemput mandat langit di tengah rimbunnya belantara Lampung Selatan.
Geografi Cugung adalah guru pertama bagi para peserta saat itu. Untuk mencapai lokasi pesantren, kendaraan harus terhenti di kantong parkir bawah. Sisanya adalah urusan kaki dan tekad; sebuah tanjakan sejauh 300 meter yang memaksa setiap pori-pori mengeluarkan peluh bahkan sebelum materi pertama dimulai. Namun, di sinilah letak filosofinya: bahwa untuk membesarkan Nahdlatul Ulama, seseorang harus bersedia mendaki, berkeringat, dan meninggalkan kenyamanan sejenak.
Heroisme kian nampak saat kita melihat para peserta yang sudah sepuh. Dengan langkah yang mungkin tak lagi sigap, mereka menaklukkan tanjakan demi tanjakan dari parkiran ke pesantren, hingga lanjut mendaki lagi sejauh 300 meter menuju lokasi senam pagi dengan semangat yang justru seringkali melampaui mereka yang lebih muda.
Di mata para pimpinan kita, termasuk Ketua MWCNU Ust. Mas'ud, keteguhan para sesepuh ini adalah pesan diam bahwa khidmah di NU tidak mengenal kata purna, apalagi kata lelah.
Ada satu fragmen sejarah di Angkatan XIII ini yang menjadi "rahim" bagi tradisi solidaritas kader di Lampung Selatan. Di tengah jumlah kader Rajabasa yang saat itu masih bisa dihitung jari, muncullah bala bantuan organik. Kader Penggerak dari Bakauheni dan Ketapang hadir bukan sebagai tamu kehormatan, melainkan sebagai barisan pelayan (khadim).
Mereka berjibaku di bagian dapur dan urusan konsumsi sebuah lini krusial yang menentukan denyut nadi kegiatan. Mereka tidak sekadar mengantar peserta lalu pulang, melainkan mendampingi hingga usai, memastikan kebutuhan logistik terjamin tanpa pamrih.
Inilah cikal bakal sanad solidaritas lintas kecamatan yang di kemudian hari kita lihat mewujud kembali dalam heroisme dapur di Sragi. Sebuah bukti bahwa ruh kader penggerak adalah tentang saling menopang, bukan saling menumpang.
Puncak dari dialektika alam dan organisasi ini terjadi pada Sabtu pagi. Di bawah gemericik Air Terjun Cijuet yang berjarak 200 meter dari lokasi senam, para peserta bersimpuh dalam barisan tawasul yang dipimpin langsung oleh Ketua PCNU Lampung Selatan, H. Nur Mahfudz. Di sana, di antara suara air dan hawa sejuk pegunungan, doa-doa dilambungkan sebagai simbol pembersihan niat.
Kehadiran Rais Syuriyah PCNU Kiai Ishomuddin saat upacara sakral pembaiatan kemudian mengunci seluruh prosesi itu ke dalam sanad perjuangan ulama yang sah. Kehadiran beliau memberikan legitimasi spiritual bahwa lelahnya pendakian di lereng Rajabasa adalah bagian dari jalan ninja para pejuang aswaja.
Menengok kembali kemegahan spirit Angkatan XIII di lereng Rajabasa ini sejatinya adalah undangan bagi kita semua untuk berkaca pada kedalaman niat. Sejarah telah mencatatkan bahwa dengan jumlah personil yang terbatas dan medan yang menguras fisik, keluarga besar Nahdlatul Ulama di Rajabasa telah mampu menghadirkan khidmah yang sangat total.
Keberhasilan tersebut adalah warisan berharga, sebuah standar pengabdian yang pernah kita capai bersama dan menjadi pijakan untuk langkah-langkah selanjutnya.
Kini, di saat struktur kepengurusan telah semakin lengkap dan akses dukungan organisasi semakin terbuka, tantangan kita adalah memastikan bahwa kemudahan-kemudahan ini menjadi wasilah bagi pengabdian yang lebih luas.
Kita memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga agar nyala api militansi yang dulu disulut dengan cucuran keringat di jalan tanjakan Cugung, tetap hangat dan menerangi jalur perjuangan kita hari ini.
"Sejarah di lereng Rajabasa mengajarkan kita bahwa kejayaan organisasi tidak ditentukan oleh seberapa megah kantor kita, melainkan oleh seberapa kuat kebersamaan kita dalam mendaki tanjakan ujian. Tugas kita hari ini adalah merawat warisan semangat itu, memastikan bahwa setiap kemudahan yang kita miliki saat ini menjadi jembatan bagi khidmah yang jauh lebih dahsyat dan penuh berkah."

0 Komentar