Ticker

6/recent/ticker-posts

KHIDMAH DAPUR MENUJU MANIFESTO KEMANDIRIAN


Menulis tentang Sragi bukan sekadar menyusun laporan kegiatan organisasi yang kering di atas kertas. Menulis tentang Sragi adalah menulis sebuah perjalanan pulang ke akar solidaritas yang paling purba.

Di kecamatan yang menjadi urat nadi Jalan Lintas Timur Sumatera ini, kita tidak hanya melihat sebuah struktur bergerak, melainkan menyaksikan bagaimana ukhuwah nahdliyah mampu meluruhkan ego teritorial demi sebuah pengabdian yang tulus.

Secara geopolitik lokal, Sragi adalah etalase. Sebagai jalur transit utama yang menghubungkan Jawa dan Sumatera, ia adalah wilayah yang strategis sekaligus rawan. Arus manusia, barang, hingga ideologi transnasional berlalu-lalang di sini setiap detiknya.

Maka, ketika Jam’iyyah Nahdlatul Ulama menanam jangkarnya melalui Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU), kita sebenarnya sedang membangun benteng mentalitas Aswaja di gerbang depan Pulau Sumatera. Ini bukan sekadar amanat Muktamar; ini adalah ikhtiar menjaga kedaulatan batin umat agar tetap setia pada garis perjuangan ulama.

Dapur Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa PD-PKPNU Angkatan XXIV yang digelar tepat pada momentum Hari Pahlawan, 10-12 November 2023, adalah sebuah "ujian nyali" bagi MWCNU Sragi. 

Bertempat di Pondok Pesantren Salafiyah Modern Karomah Jabal Nur, Desa Bandar Agung, momen ini berlangsung sangat khidmat. Meski berada di jalur Lintas Timur, lokasi pesantren yang tenang menjauhkan peserta dari kebisingan jalan raya, membiarkan doktrin aswaja meresap tanpa gangguan.

Di bawah asuhan Rais Syuriyah Kiai Syukur dan kepemimpinan Ketua MWCNU Kiai Sumari, Sragi saat itu masih dalam fase transisi dengan keterbatasan personil. 

Namun, muncul fenomena yang saya sebut sebagai "Operasi Kemanusiaan Organik". Karena minimnya kader penggerak di Sragi, secara ajaib, sekat-sekat administratif kecamatan runtuh. Kader dari Ketapang dan Bakauheni turun tangan secara penuh. Mereka tidak datang sebagai tamu, melainkan sebagai pelayan (khadim).

Momen paling estetik terjadi saat upacara pembukaan. Tim paduan suara yang menyanyikan Indonesia Raya dan Mars Syubbanul Wathon dengan semangat membara adalah para ibu-ibu tangguh yang beberapa menit sebelumnya masih berjibaku dengan asap kuali di dapur. Tak perlu menunggu sanjungan, begitu nada terakhir selesai, mereka langsung saya arahkan kembali ke dapur.

Mereka memahami sebuah kredo yang tidak tertulis: bahwa panggung hanyalah tugas sesaat, namun memastikan perut para calon pejuang terisi adalah khidmah yang utama. Tidak ada suasana haru yang melankolis saat mereka pamit pulang; yang ada hanyalah gurat kebanggaan karena telah tuntas berkhidmah untuk "saudara muda" mereka di Sragi.

Jika Angkatan XXIV adalah monumen heroisme dalam keterbatasan, maka PD-PKPNU Angkatan XXVII di Desa Sumber Agung pada 25-27 Oktober 2024 adalah proklamasi kemandirian yang paripurna. Hanya dalam jeda satu tahun, Sragi melakukan lompatan kuantum.

Bertempat di MI Guppi 2 Sumber Agung, kematangan organisasi terasa hingga ke detail terkecil. Mereka tidak lagi menjadi "penerima bantuan", melainkan telah bermetamorfosis menjadi pusat gravitasi kaderisasi yang mandiri.

Hadirnya para Kepala Desa sebagai peserta aktif adalah bukti sahih bahwa kaderisasi NU di Sragi telah mampu menembus sekat-sekat struktural birokrasi. Ini adalah manunggalnya ulama dan umara dalam satu kawah candradimuka.

Kemandirian ini kemudian dipuncaki dengan simbol "Sambung Sanad" melalui penanaman bibit pohon sawo oleh Ust. M. Arif Sutikno (Ketua MWCNU Palas) bersama kader Penggerak NU lainnya. Pohon sawo yang ditanam adalah doa yang membumi: agar kaderisasi di Sragi tumbuh rimbun, berakar kuat, dan buahnya menjadi peneduh bagi umat.

Sragi bukan lagi pemain cadangan. Keberhasilan menyelenggarakan dua angkatan dalam waktu singkat telah menempatkan kecamatan ini dalam radar pergerakan yang diperhitungkan. Dengan dada tegak, Sragi kini bersiap menyambut tantangan yang lebih besar: PD-PKPNU Angkatan ke-39 pada 22-24 Januari 2026 mendatang.

Pelajaran terbesar dari Sragi adalah bahwa kemandirian tidak turun dari langit. Ia adalah buah dari ketekunan kiai yang merawat barisan dan keikhlasan kader yang konsisten di jalur perjuangan.

"Di Sragi, kita belajar bahwa bangga menjadi pelayan jam'iyyah adalah level tertinggi dalam ber-NU. Bandar Agung telah memberikan kita ketulusan, dan Sumber Agung telah memberikan kita kekuatan. Karena di NU, kita tidak pernah berjalan sendirian, tapi kita harus mampu berdiri tegak di atas kaki sendiri."

Siapa Kita...???!!!

Posting Komentar

0 Komentar