Ticker

6/recent/ticker-posts

WAY SULAN: MENANAM JANGKAR DI SEGITIGA EMAS KADERISASI


Menulis tentang Kader Penggerak NU di Way Sulan adalah menulis tentang sebuah ketekunan yang melampaui batas administratif.

Jika Ketapang adalah memori tentang rintisan awal di tahun 2007, maka Way Sulan adalah pembuktian tentang bagaimana sebuah wilayah pemekaran mampu bertransformasi menjadi laboratorium kaderisasi yang paling produktif di Lampung Selatan.

Di hamparan tanah agraris ini, Nahdlatul Ulama tidak sekadar hadir, ia sedang membangun peradaban dari akar rumput.

Perjalanan saya menuju PD-PKPNU Angkatan XXVI pada Desember 2023 kemarin adalah sebuah "kejar tayang" ideologis. Bersama Kiai Abdul Aziz Attarmasi, kami menembus jalur yang menuntut kesabaran fisik; jalanan yang seolah meminta perbaikan total itu menjadi saksi bahwa khidmah seringkali harus berhadapan dengan realitas infrastruktur yang pahit.

Namun, di dalam kabin kendaraan, keletihan itu luruh oleh sebuah kesadaran: bahwa estafet ini tidak boleh jeda, meski hanya satu tarikan napas.

Way Sulan bukan pemain baru dalam peta kaderisasi. Sejarah mencatat "hat-trick" yang luar biasa.

Dimulai dari Angkatan IV (8-10 April 2021) di Pondok Pesantren Darul Mubarokah Dusun Banusiri, kemudian berlanjut ke Angkatan XII (19-21 Agustus 2022) di SMK Nurul Huda Desa Pamulihan, hingga puncaknya di Angkatan XXVI di YPI Al-Ittihadiyah Desa Mekar Sari.

Perpindahan dari satu desa ke desa lain, dari satu pesantren ke sekolah, menunjukkan bahwa Way Sulan telah membentuk "Segitiga Emas Kaderisasi".

Ada evolusi yang menarik di sini; transisi nomenklatur dari PKPNU menjadi PD-PKPNU bukan sekadar urusan administratif, melainkan simbol kedewasaan organisasi dalam merespons standarisasi nasional. Way Sulan tidak hanya patuh pada struktur, ia adalah struktur itu sendiri yang sedang bergerak dinamis.

Di YPI Al-Ittihadiyah yang tertib dan resik, di bawah nakhoda Kiai Asep Abdul Basith dan Kiai Sukadi, saya menemukan fragmen pengabdian yang paling murni.

Di balik kepulan asap tungku kayu dan gas yang dikawal Bu Nyai Siti Mutamimmah, ada sebuah disiplin batin yang luar biasa.

Momen paling estetik adalah saat para kader dapur yang baru saja berjibaku dengan urusan logistik tiba-tiba muncul dengan Batik NU motif Lampung yang gagah. Mereka berdiri dalam formasi lingkaran, memegang Merah Putih dan panji NU dengan wibawa yang meluap.

Di Way Sulan, batas antara "pelayan" dan "pemimpin" meluruh dalam satu kata: Khidmah. Siapa pun yang bersedia tangannya kotor oleh urusan umat, ia berhak memegang panji tertinggi organisasi.

Sore itu, 25 Desember jam 15.00, penanaman pohon sawo oleh Hi. Nur Mahfudz bukan sekadar seremoni. Sebagai wilayah yang menghubungkan Katibung, Candipuro, hingga Merbau Mataram, Way Sulan adalah titik hubung geopolitik yang krusial.

Harapan agar tempat ini menjadi "Mercusuar Amaliah" adalah sebuah visi kedaulatan. Menanam sawo di sini berarti menanam jangkar ideologi agar di tengah perubahan zaman, masyarakat agraris kita tidak kehilangan arah kompas spiritualnya.

Kita sering melihat kaderisasi sebagai deretan angka peserta, namun di Way Sulan kita belajar melihatnya sebagai aliran sanad.

"Kaderisasi sejati bukanlah upacara serah terima tongkat di panggung yang gemerlap. Ia adalah ketekunan akar yang memastikan nutrisi ideologi tetap mengalir ke pucuk daun meski batang pohonnya dihantam cuaca.

Di Way Sulan, kita tidak sekadar mencetak pemegang tongkat estafet, melainkan sedang memastikan bahwa setiap jengkal tanah pertanian ini dijaga oleh mereka yang sanggup berdiri tegak dalam kesunyian, tanpa butuh sorot lampu untuk merasa berarti."

Way Sulan menuntaskan tugas sejarahnya dengan gemilang. Ia telah membuktikan bahwa di NU, kedaulatan itu dimulai dari ketulusan di dapur, kedisiplinan di barisan, dan kesetiaan pada sanad yang tak pernah putus.

Posting Komentar

0 Komentar