Ticker

6/recent/ticker-posts

MEMBACA MASA DEPAN NU DARI GARIS BATAS DESA


Khidmah di Nahdlatul Ulama seringkali membawa kita pada perjalanan yang melampaui batas-batas administratif maupun lelahnya fisik. Maghrib baru saja usai ketika saya memacu kendaraan membelah sisa hujan menuju Desa Sumber Agung, Sragi. Jika perjalanan motor matic siang tadi adalah fragmen personal yang puitis tentang kesabaran, maka perjalanan malam ini adalah sebuah rihlah ideologis. Saya hadir untuk menyaksikan langsung bagaimana "Laboratorium" Aswaja bekerja secara nyata di akar rumput, mendampingi dinamika pergerakan yang malam ini berpusat di Mushola Nurul Huda dalam peringatan Isra’ Mi’raj 1447 H.

Tiba di lokasi, mata saya tidak tertuju pada megahnya dekorasi panggung, melainkan pada barisan pengamanan yang berdiri tegak di garis depan. Di sana, seragam loreng Banser tidak berdiri sendirian dalam sunyi. Laporan Panitia dan sambutan Kepala Desa Ali Rohim serta sambutan Ketua PHBI Ustaz Muhammad Nasrullah memberikan fakta yang menggetarkan: ada sinergi yang cair antara pemuda Katolik, Kristen, dan Hindu (Umat Sedharma) yang bahu-membahu menjaga kekhusyukan acara. Bagi saya, ini bukan sekadar etalase toleransi yang sering diperdebatkan di ruang seminar perkotaan yang elitis, melainkan bukti nyata dari Ketahanan Nasional berbasis Desa. Sumber Agung membuktikan bahwa harmoni sosial adalah oksigen harian warga. Inilah jawaban telak atas kekhawatiran disintegrasi di media sosial; bahwa di tingkat dusun, kedaulatan kemanusiaan kita masih sangat kokoh dan tidak mudah goyah oleh polusi isu sensitif.

Momen puncak terjadi saat Kiai Abdul Aziz naik ke panggung. Di bawah sorot lampu panggung yang benderang, ada visualisasi otoritas ilmu yang sangat tenang: tangan kiri beliau memegang mikrofon, sementara tangan kanan dengan takzim membuka lembaran Kitab Miftahul Mannan. Pembacaan satu baris kitab tersebut adalah sebuah "salam takzim" intelektual yang mendalam. Beliau membedah teks tentang hakikat syukur (Al-Hamdulillah) sebagai kunci keberuntungan dunia-akhirat dan magnet bertambahnya nikmat. Meski beliau adalah penceramah utama dan instruktur wilayah, beliau tetap memposisikan diri sebagai santri yang sedang menggugurkan kewajiban mengajar atas baiat guru-gurunya di Tremas. Ini adalah pelajaran adab yang luar biasa bagi kita semua. Beliau mengingatkan tentang pentingnya Himayatud Din (Menjaga Agama). Hikmah strategisnya jelas: Fisik mengikuti Ruh. Jika jamaah kehilangan amaliah Aswaja—seperti istiqamah shalat berjamaah dan tradisi kulturalnya maka bangunan masjid semegah apa pun akan kehilangan "nyawa" dan perlahan akan hilang secara fisik dari peradaban.

Namun, hikmah yang paling mahal bagi saya justru tersimpan dalam dua jam perjalanan pulang-pergi yang kami lalui. Di dalam ruang kabin mobil yang privat, menembus keheningan jalanan Sragi hingga Sidomulyo, dialektika antara saya dan Kiai Aziz terus mengalir tanpa jeda. Menariknya, selama 120 menit itu, frekuensi pembicaraan kami seolah terkunci rapat pada orbit Jam’iyyah. Tidak ada ruang untuk obrolan kosong yang sia-sia.

Kami membedah tuntas persoalan Himayatud Din hingga Himayatud Daulah, termasuk bagaimana strategi pemberdayaan ekonomi pesantren agar tidak hanya menjadi menara gading. Bahkan ketika obrolan menyerempet topik pertanian, perspektif yang diambil tetaplah tentang bagaimana sektor itu bisa memperkuat kedaulatan ekonomi warga NU. Inilah watak asli penggerak; di mana pun berada, pikiran tetap tertambat pada satu titik gelombang pengabdian. Bagi kami, NU bukan sekadar organisasi tempat mampir untuk mencari panggung, melainkan "rumah besar" yang cara berpikirnya harus merembes ke segala aspek kehidupan termasuk ke dalam setiap jengkal tanah petani kita.

Pukul 01.00 dini hari, kendaraan akhirnya memasuki halaman rumah di perbatasan Dusun Kampung Duren dan Banjarsari. Suasana sunyi, namun pikiran saya masih benderang oleh refleksi perjalanan hari ini. Dari rute siang hingga dini hari, saya memetik kesimpulan besar: kedaulatan Jam’iyyah tidak diukur dari riuhnya tepuk tangan, melainkan dari seberapa konsisten kita menjaga frekuensi pemikiran untuk umat. Sumber Agung telah menunjukkan bahwa laboratorium terbaik NU adalah ketulusan warga yang berbagi tugas menjaga keamanan, adab kiai yang teguh menjaga sanad, dan dialog ideologis para kader yang tak pernah putus meski di tengah sunyinya jalanan pulang.

Tabik.

Posting Komentar

0 Komentar