Jejak spiritual dari lokasi PD-PKPNU di Neglasari sebenarnya telah tuntas tadi malam, sesaat setelah upacara baiat mengunci seluruh rangkaian khidmah dengan penuh haru. Namun, sebuah fragmen tak terduga membawa saya kembali menyusuri aspal Lampung Selatan siang ini. Pukul 11.47 WIB, saya bergerak meninggalkan kediaman di perbatasan Dusun Kampung Duren, Desa Seloretno. Kali ini, saya memilih memacu motor matic yang lincah pilihan logis untuk menembus hambatan jalan daripada menggunakan roda empat yang pasti akan memakan waktu lebih lama.
Tujuannya satu: menjemput dompet yang terbawa di mobil Mas Zaini Ghofur semalam. Perjalanan satu jam melintasi Kecamatan Way Panji ini menyuguhkan dialog visual yang kontras. Jalur yang pada 8 Desember lalu masih nampak biasa, hari ini menampilkan "luka" infrastruktur; sebuah portal pembatas jalan yang roboh dan dilingkari garis polisi. Bagi sebagian mata, ini mungkin hanya bahan kritik sosial, namun dalam kacamata silaturasa, portal yang rebah dan garis polisi yang melintang adalah pengingat akan batas-batas kemanusiaan. Bahwa kedaulatan kita tidak ditentukan oleh mulusnya aspal, melainkan oleh keteguhan prinsip saat melintasi rintangan.
Sesampainya di Palas Jaya, saya mendapati Mas Zaini dalam kondisi yang sepertinya sedang kurang fit. Pertemuan pun berlangsung hangat di ruang tamu beliau. Di sana, sembari menikmati segelas kopi hitam tanpa gula selera yang selalu setia menemani setiap jengkal langkah ini, kami berbincang banyak hal. Mulai dari dinamika Jam'iyyah hingga strategi merawat umat di tingkat akar rumput. Insiden dompet yang terbawa ini seolah menjadi skenario semesta agar diskusi ideologis ini tetap terjaga meski ritual formal telah usai. Di tengah pahitnya kopi yang jujur dan rasa empati pada sahabat yang sedang lelah, saya diingatkan bahwa dalam berorganisasi, saling jaga antar-sejawat adalah napas yang tak boleh putus.
Pukul 15.00 WIB lewat sedikit, motor lincah saya kembali memasuki halaman rumah. Tepat saat itu, kumandang Adzan Ashar dari Masjid Al-Ikhlas Dusun Banjarsari menggema dengan teduh. Masjid ini berdiri tepat di dekat rumah saya, seolah menjadi penjaga spiritual di garis batas antara Dusun Kampung Duren dan Banjarsari. Suara panggilan itu menjadi titik tuntas yang paripurna; sebuah pengingat bahwa setinggi apa pun aktivitas organisasi dan sedalam apa pun diskusi intelektual kita, pada akhirnya kita akan kembali bersimpuh pada Sang Pemilik Kehidupan.
Jalanan yang rusak memang menguji ketahanan fisik, namun ia sekaligus mencuci niat agar tetap murni. Khidmah di Nahdlatul Ulama adalah perjalanan panjang yang tak pernah menjanjikan keberkahan bagi mereka yang sabar menapakinya. Kita tidak sedang mengejar kecepatan panggung, melainkan sedang merawat kedalaman rasa dalam setiap pengabdian yang sunyi.

0 Komentar