Ticker

6/recent/ticker-posts

FILOSOFI SAWO DI NEGLASARI


Sejarah baru bagi Nahdliyin di wilayah Lampung Selatan resmi ditorehkan. Untuk pertama kalinya, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Katibung menyelenggarakan Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU) Angkatan XXXVIII. Perhelatan sakral ini dipusatkan di Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin, Desa Neglasari, yang secara resmi dibuka pada Kamis, 25 Desember 2025, pukul 14.00 WIB.

Pemilihan Desa Neglasari sebagai lokasi kegiatan membawa nuansa tersendiri bagi gerak nadi organisasi. Terletak di jantung wilayah daratan yang menjadi urat nadi pergerakan antarwilayah, Neglasari menjadi saksi bagaimana NU hadir mempertegas eksistensinya di wilayah perbukitan tersebut. Di sinilah, jauh dari hiruk-pikuk pesisir, jangkar ideologi ditanamkan guna memperkuat barisan penggerak di sepanjang jalur daratan Lampung Selatan ini.

Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin yang menjadi tuan rumah memiliki rekam jejak pengabdian yang panjang di bawah asuhan Kiai Sukiyat, S.Pd. dan Bu Nyai Niswatus Sholihah. Berawal dari Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) yang berkhidmah sejak tahun 1996 hingga 2016, lembaga ini kemudian memantapkan langkahnya dengan mendirikan pondok pesantren pada tahun 2017. Membawa spirit dan keberkahan sanad dari almamater pengasuhnya di Sirojuth Tholibin, Blitar, Jawa Timur, pesantren ini kini menjadi benteng pertahanan faham Ahlussunnah wal Jamaah di Katibung.

Prosesi pembukaan berlangsung khidmat dengan kawalan langsung dari jajaran pimpinan tertinggi MWCNU Katibung sebagai tuan rumah, yakni Rais Syuriyah Ust. Reno dan Ketua Tanfidziyah Bapak Mujtahidin. Dari jajaran Cabang, kegiatan dibuka secara resmi oleh pengurus PCNU Lampung Selatan didampingi oleh Julianto, M.Pd.I selaku Instruktur Wilayah. Sinergi di tingkat akar rumput nampak nyata dengan kehadiran aparat kewilayahan, termasuk Kepala KUA Katibung beserta staf serta Bhabinkamtibmas setempat yang turut menyaksikan dimulainya rangkaian pengkaderan tersebut.

Memasuki hari ketiga yang merupakan fase krusial, puluhan peserta digembleng dalam jadwal yang kian padat dan disiplin tinggi. Giat hari ini diawali pada pukul 03.00 WIB dengan mujahadah, sebuah ikhtiar batin untuk mengetuk pintu langit demi kelancaran pengabdian organisasi. Usai menunaikan Shalat Shubuh berjamaah pada pukul 05.30 WIB, para peserta segera beranjak mengikuti senam pagi dan latihan baris-berbaris pada pukul 07.30 WIB sebelum kembali memasuki materi kelas. Penguatan fisik dan spiritual ini menjadi bukti bahwa kader NU ditempa untuk memiliki ketangguhan lahir maupun batin sebelum benar-benar diterjunkan ke masyarakat.

Salah satu momentum paling simbolis dalam kaderisasi ini terjadi pada sore hari saat prosesi penanaman bibit pohon sawo. Dengan kawalan bendera Merah Putih dan bendera Nahdlatul Ulama yang berkibar gagah, bibit pohon tersebut diserahkan kepada pengasuh pondok dengan dipimpin langsung oleh Kiai Abdul Aziz Attarmasi. Pemilihan pohon sawo bukanlah tanpa alasan; selain mewarisi tradisi sandi perjuangan para kiai terdahulu yang melambangkan kebaikan menyeluruh (sarwo becik), penanaman ini diharapkan menjadi penanda bahwa di bumi Neglasari, semangat Amaliah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah akan tumbuh mengakar kuat dan menjulang menjadi mercusuar bagi umat.

Rangkaian panjang tiga hari ini akhirnya mencapai puncaknya pada upacara baiat. Dalam suasana haru yang menyelimuti aula pesantren, para peserta mengikrarkan janji setia untuk menjaga marwah ulama dan NKRI. Baiat ini menjadi garis batas suci yang mengubah status mereka menjadi kader penggerak yang siap berkhidmat secara total. Sebagai penutup syukur, kegiatan diakhiri dengan tasyakuran berupa makan bersama (ramah tamah). Momen ini menjadi potret indah kemanunggalan antara kiai, instruktur, dan kader. Rasa lelah seolah luruh dalam hangatnya persaudaraan Nahdliyin, menandai lahirnya barisan baru yang siap memastikan panji-panji NU tetap berkibar tegak di setiap sudut Katibung.

Siapa Kita...???!!!

Posting Komentar

0 Komentar