Ticker

6/recent/ticker-posts

SEBUAH NAPAK TILAS, ARSIP YANG HILANG, DAN MAKNA SEJARAH


Setiap Muktamar Nahdlatul Ulama adalah perhelatan akbar, bukan sekadar rapat kerja, melainkan sebuah denyut nadi peradaban pesantren yang berdetak kencang. Panggilan untuk hadir selalu terasa kuat.

Perjalanan ini bermula setelah saya menyelesaikan Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) Edisi Khusus Muktamar selama tiga hari penuh (20 s.d. 22 Desember 2021) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jati Agung, Lampung Selatan, asuhan Kyai Abdul Aziz Attarmasi.

Lelah luar biasa mendera ditambah cuaca yang kurang bersahabat, diguyur hujan, sehingga membuat badan terasa kurang fit. Logis rasanya jika saya putuskan untuk bermalam di pondok pesantren yang teduh itu, memulihkan energi sebelum esok paginya terjun ke medan magnet Muktamar di Bandar Lampung.

Pagi harinya, saya bergerak menuju lokasi. Setelah komunikasi via WhatsApp dengan Mas Zaini, kami bertemu di gedung balai pertanian di Kecamatan Natar, Lampung Selatan.

Tempat ini sudah menjadi semacam titik kumpul informal, ditempat tersebut ada muktamirin dari bberapa Daerah. Saya sempat berbincang hangat dengan rombongan yang datang jauh-jauh dari Papua sebuah bukti nyata betapa NU ini merangkul nusantara dari Sabang sampai Merauke.

Usai berbincang, kami berpisah, menikmati suasana muktamar dengan gaya masing-masing. Ada yang langsung ke area bazar, saya memilih UIN Raden Intan Lampung (UIN RIL) sebagai destinasi awal.

Di tengah kesibukan mengabadikan momen selfie, vlog, merekam suasana sebuah pesan masuk dari Mas Zaini. Ia mengirimkan beberapa foto. Ah, saya pikir hanya foto gaya-gayaan dia bersama istrinya. 

"Gampang, nanti saja ditanggapi," pikir saya, mengabaikan notifikasi tersebut demi kesibukan pribadi yang fana. Waktu berlalu cepat, azan Maghrib berkumandang, dan setelah salat serta komunikasi sana-sini, saya putuskan bergeser ke Unila, pusat keramaian utama di mana semua pengurus dan Romli (Rombongan Lillahitaala) tumpah ruah.

Sebelum benar-benar berangkat Unila, saya bersama Mas Haris Budi Utomo, mampir sejenak ke acara PP IPNU. Setelah dua jam di sana, penuh semangat masa muda NU, kami meluncur ke Unila.

Di perjalanan inilah, momen krusial itu terjadi. Saya membuka kembali pesan Mas Zaini yang terabaikan. Jantung saya berdesir. Ternyata isinya bukan foto biasa, melainkan arsip bersejarah: SK PCNU Lampung Selatan sejak tahun 1996, yang masih diketik menggunakan mesin ketik manual! Sebuah kepingan sejarah yang otentik. Tanpa buang waktu, langsung saya simpan di email. Saya coba hubungi Mas Zaini, tapi tak terhubung mungkin lelahnya sama seperti saya.

Sesampainya di Unila, suasana padat merayap. Saya bertemu Mbak Alisa Wahid dan banyak lagi yang lainnya. Suasana malam itu ramai tapi asik, penuh keakraban khas NU. Di luar gedung sidang yang dijaga ketat, saya mencari oleh-oleh, tenggelam dalam euforia muktamar. Tak terasa, jam sudah 01.30 WIB. Mata tak kuat menahan kantuk, mobil pun jadi hotel dadakan.

Pagi harinya, proses sidang berlanjut. Keriuhan memuncak saat pemilihan Ketua Umum. Singkat cerita, setelah proses AHWA menentukan (Memilih Rais 'Aam) dilanjutkan dengan pemilihan Ketua Umum yang menegangkan, Ketua Umum terpilih pun diumumkan. Selesai di Unila, saya bergeser ke Masjid Al Furqon untuk salat Jumat, lalu menuju penutupan muktamar di UIN RIL.

Di sinilah klimaks cerita ini.

Kembali ke soal foto SK PCNU Lampung Selatan dari tahun 1996 itu. Ternyata, tanpa saya sadari, file penting itu hilang dari penyimpanan saya. 😥

Bagaimana bisa? Kelalaian kecil saat mengelola data di ponsel yang lowbat berakibat fatal. Saya panik. Saya coba hubungi beberapa orang yang sempat saya kirimi foto SK tersebut, tapi banyak di antaranya menjawab sudah dihapus, hilang, atau ponsel mereka rusak. Arsip sejarah itu lenyap begitu saja, hanya karena keteledoran sesaat dan minimnya sistem penyimpanan yang terstruktur.

Kejadian ini memberikan tamparan keras bagi saya, dan semoga menjadi pesan moral bagi pembaca, bahwa:

Sejarah itu bukan sekadar masa lalu, ia adalah fondasi yang menentukan arah langkah kita ke depan. Arsip, sekecil apa pun bentuknya (entah itu kertas usang atau file digital), adalah bukti otentik perjuangan para pendahulu kita. Mengabaikan arsip berarti kita mengabaikan akar sejarah organisasi kita sendiri.

Kita sering kali terlalu fokus pada hiruk pikuk masa kini rapat, pemilihan ketua, acara seremonial sampai lupa merawat jejak langkah yang ditinggalkan para pendahulu yang berjuang dengan mesin ketik manual itu.

Akhirnya, saat ini saya hanya bisa berpikir keras: Kapan saya bisa ke Kantor PBNU (Bagian Arsip) untuk kembali mengakses, atau setidaknya turut menyimpan data historis yang sangat berharga tersebut?

Semoga kisah ini mengingatkan kita semua, para pejuang organisasi, betapa pentingnya mendokumentasikan dan merawat sejarah. Jangan sampai keteledoran kita membuat kepingan sejarah berharga hilang untuk selamanya.

Posting Komentar

0 Komentar