Ticker

6/recent/ticker-posts

IKHTIAR MENUNTASKAN MANDAT PEREMPUAN DI LAMPUNG SELATAN

Dalam bentang sosiologi pergerakan, sejarah sering kali meninggalkan jejak yang tak terhapus pada sebuah ruang. Pondok Pesantren Hidayatul Muttaqiin di Desa Beringin Kencana, Candipuro, adalah salah satu titik labuh yang memegang memori kolektif tersebut bagi Nahdlatul Ulama di Lampung Selatan. Di sana, waktu seolah berkelindan, menghubungkan ingatan pada medio 18 hingga 20 Februari 2022 dengan gairah pergerakan di penghujung tahun 2025. 

Hidayatul Muttaqiin bukan sekadar deretan gedung Madrasah Aliyah atau hunian bagi seratusan santri lintas wilayah; ia adalah sebuah ruang saksi di mana nomenklatur PKPNU Angkatan IX PCNU Lampung Selatan pernah ditanamkan. Peristiwa tiga tahun silam itu menjadi fragmen sejarah vital sebelum sistem kaderisasi tersebut bertransformasi secara nasional menjadi PD-PKPNU.

Memilih kembali pesantren ini sebagai pusat Pelantikan dan Latihan Kader Dasar (LKD) Fatayat NU bukanlah sekadar urusan teknis tempat, melainkan sebuah ikhtiar "napak tilas" untuk menjemput kembali spirit penggerak dari tanah asalnya.

Keberadaan Hidayatul Muttaqiin sebagai tuan rumah agenda besar ini tidak bisa dilepaskan dari peran Kiai Mualim, Lc sebagai pengasuh. Sebagai intelektual muda alumnus Pondok Pesantren Kauman Lasem (Al Muttaqin), Kiai Mualim adalah penjaga gawang tradisi turats yang konsisten. Di bawah asuhan beliau, literatur klasik seperti Uqudul Lujain karya Syekh Nawawi al-Bantani tetap menjadi rujukan utama dalam membentuk karakter santri.

Meskipun fokus beliau adalah pada kedalaman literasi kitab di pesantren, keberadaan tradisi intelektual inilah yang memberikan atmosfer atau "oksigen" ideologis bagi para kader Fatayat yang tengah berkegiatan di sana. Di tengah masyarakat Candipuro yang heterogen, di mana warga Nahdliyin hidup berdampingan secara harmonis dengan warga Muhammadiyah, konsistensi Kiai Mualim dalam menjaga sanad keilmuan Lasem dan Timur Tengah menjadi bukti bahwa pesantren tetap menjadi benteng moderasi yang kokoh.

Namun, di atas fondasi kultural pesantren tersebut, gerak struktural organisasi tetap harus dipacu. Di sinilah peran Mukhayyaroh, S.Pd.I., Ketua PC Fatayat NU Lampung Selatan, menjadi dirigen yang memetakan arah baru barisan perempuan muda.

Mengonsolidasi seratus kader dari tujuh kecamatan strategis Sragi, Palas, Way Panji, Sidomulyo, Candipuro, Way Sulan, hingga Katibung adalah sebuah upaya unifikasi kekuatan di wilayah yang menjadi urat nadi pergerakan di Lampung Selatan. 

Kehadiran jajaran Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat NU Lampung dalam momentum ini membawa pesan instruksional yang sangat serius: bahwa estafet pendidikan kader tidak boleh berhenti pada seremonial semata.

Ada mandat organisasi yang harus dituntaskan guna memastikan setiap kader memiliki ketangguhan ideologis yang sejajar dengan para pendahulu mereka yang pernah digembleng dalam PKPNU Angkatan IX di tempat yang sama.

Fenomena di Hidayatul Muttaqiin ini memberikan pelajaran penting bagi diskursus kepemimpinan organisasi di Indonesia. Bahwa transformasi sebuah organisasi tidak harus dilakukan dengan memutus mata rantai masa lalu.

Sebaliknya, kemajuan diraih dengan cara merawat jejak sejarah seperti memori PKPNU IX dan memadukannya dengan disiplin manajerial kontemporer. Sinergi antara otoritas kultural Kiai Mualim, Lc sebagai penjaga pesantren dan keteguhan manajerial Mukhayyaroh, S.Pd.I. sebagai pemimpin organisasi menciptakan sebuah ekosistem kaderisasi yang utuh.

Di sana, Madrasah Aliyah menjadi penyemai bibit, pesantren menjadi penjaga ruh, dan Fatayat menjadi ujung tombak gerakan. Dari gerbang Candipuro, Lampung Selatan sedang mengirimkan sinyal kuat ke panggung nasional: bahwa sebuah peradaban yang tangguh hanya bisa tegak jika ia berdiri di atas pondasi sejarah yang kuat, sanad ilmu yang jernih, dan Fatayat menjadi ujung tombak gerakan.

Dari gerbang Candipuro, Lampung Selatan sedang mengirimkan sinyal kuat ke panggung nasional: bahwa sebuah peradaban yang tangguh hanya bisa tegak jika ia berdiri di atas pondasi sejarah yang kuat, sanad ilmu yang jernih, dan keterlibatan perempuan yang terdidik secara paripurna.

Posting Komentar

0 Komentar