Ticker

6/recent/ticker-posts

KONTRAS PERADABAN— MILITANSI AKAR RUMPUT DAN BEKAL SPIRITUAL.


Setelah penyeberangan yang penuh makna dan komunikasi penting dengan Ketua NU Care-Lazisnu Sidoarjo, rombongan kami tiba di Pulau Jawa dan memulai perjalanan darat yang panjang. Setibanya di Pelabuhan Merak, rombongan langsung tancap gas memasuki Tol Trans Jawa. Perjalanan panjang ini kami manfaatkan sebagai ajang konsolidasi terakhir dan istirahat sejenak.

Di salah satu rest area yang kami singgahi, kami mengabadikan semangat. Inilah momen di mana kami, para pengurus, menunjukkan dinamika personal kami.

1. Militansi Kontras: Meskipun kami membawa kaos hitam seragam PCNU Lampung Selatan sebagai penanda ketaatan struktural, saya, Mg Iful, dan putra beliau Orshin memilih untuk mengenakan kaos putih self-made kami yang bergambar karikatur. Kontras antara seragam resmi dan ekspresi pribadi ini menegaskan bahwa semangat militansi struktural berjalan beriringan dengan kreativitas kader, dan diwariskan secara turun temurun.


2. Pelayanan Nyata: Semangat pelayanan Merawat Jagad di rombongan kami diwakili oleh Pak Noor Tajudin (Pensiunan Mantri Kesehatan dari Tanjung Bintang, terlihat di foto mengenakan batik). Beliau, yang telah beberapa kali bersama kami terjun ke lapangan saat Tsunami Selat Sunda, menunjukkan komitmen nyata dengan membawa satu box container penuh obat dan P3K. Kehadiran Pak Noor Tajudin menjamin bahwa rombongan PCNU Lampung Selatan tidak hanya membawa marwah, tetapi juga membawa kesiapsiagaan kesehatan—bukti bahwa kami selalu siap melayani diri sendiri dan jamaah lain di tengah perjalanan masif ini.

Menjelang Subuh, kami singgah di sebuah Rest Area di Jawa Tengah. Di tengah keramaian itu, sebuah pertemuan tak terduga kembali menggarisbawahi luasnya jejaring NU. Saya berpapasan dan langsung bertegur sapa dengan dr. Makki, bagian dari tim Lembaga Kesehatan NU (LKNU) PBNU yang pernah hadir di Lampung Selatan saat masa rehabilitasi pasca-Tsunami Selat Sunda. Pertemuan ini sungguh mengharukan, menegaskan bahwa hubungan yang kami jalin telah menjadi bagian dari jejaring kemanusiaan nasional di bawah PBNU.

Momen kebersamaan di Subuh yang dingin itu kemudian dihangatkan oleh kejutan dari Ketua PCNU, Hi. Nur Mahfudz, SE. Beliau mengumpulkan seluruh rombongan dan memimpin yel-yel. Serentak, para kader menyanyikan Mars Syubbanul Wathon dan melantunkan Sholawat Badar dengan penuh semangat. Suara rombongan kami menggema, memberikan suntikan energi positif. Suara yel-yel ini adalah bukti militansi tanpa batas dari kader di akar rumput. Namun, di balik semangat yang menggebu ini, ada sedikit pilu di hati kami. Kami bergerak dengan tema 'Merawat Jagad Membangun Peradaban.' Kami datang membawa harapan bahwa peradaban sejati dimulai dari kerukunan dan kemaslahatan di rumah sendiri, bukan dari kegaduhan yang memecah konsentrasi umat. Kami berharap, semangat yang kami bawa dari Lampung Selatan ini bisa menjadi pengingat akan khittah keikhlasan. Momen Yel-Yel Kader ini segera saya abadikan, merekam video semangat Subuh yang luar biasa ini—sebuah bukti otentik komitmen kami.

Setelah energi terisi penuh, rombongan melanjutkan perjalanan. Pada pukul 06.51 pagi, 6 Februari 2023, kami sempat berhenti di kawasan Kaliwungu, Kendal, untuk sarapan. Di rumah makan tersebut, silaturahmi NU kembali terjalin. Kami bertemu dan berbaur dengan rombongan dari PCNU Tulang Bawang, dipimpin langsung oleh K.H. Dimyati Rifa'i. Pertemuan ini menjadi bukti nyata bahwa semua PCNU di Lampung sedang bergerak serentak menuju satu tujuan. Saling sapa dan bertukar cerita di perantauan Jawa semakin mempererat rasa kekeluargaan antar-cabang.

Menutup fase perjalanan darat yang panjang, kami memanfaatkan sisa waktu dengan menjalankan tradisi penting Nahdliyin: Ziarah Kubro. Kami menyempatkan diri singgah untuk berziarah ke makam Syekh Jumadil Kubro. Ziarah ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga napak tilas historis, mengenang salah satu tokoh sentral penyebar Islam di Nusantara. Momen ini menjadi bekal spiritual dan tawassul bagi seluruh rombongan, memohon keberkahan dan kelancaran dalam perjalanan, dan yang terpenting, memohon agar cita-cita Merawat Jagad dapat terwujud, dimulai dari hati dan langkah kami sendiri.

"Suara yel-yel kader Subuh kami adalah bukti militansi tanpa batas dari akar rumput. Di tengah semangat ini, kami datang membawa harapan: Peradaban sejati dimulai dari kerukunan di rumah sendiri, bukan dari kegaduhan yang memecah konsentrasi."

Bersambung ke episode 3

Posting Komentar

0 Komentar