Ticker

6/recent/ticker-posts

SEMANGAT MELINTASI SAMUDRA—KONSOLIDASI DAN PANGGILAN JARINGAN.


Perjalanan bersejarah kami menuju Resepsi Puncak 1 Abad Nahdlatul Ulama di Sidoarjo dimulai pada Minggu, 5 Februari. Kantor PCNU Kabupaten Lampung Selatan di Kalianda menjadi titik kumpul utama, penuh hiruk pikuk semangat kader. Momen keberangkatan ini lebih dari sekadar perjalanan; ini adalah konsolidasi awal para pejuang struktural NU. Kami, rombongan pengurus harian dan perwakilan MWCNU, berkumpul untuk menunaikan janji sejarah, siap melintasi Jawa-Sumatera membawa marwah pimpinan utama PCNU Lampung Selatan. Rombongan ini secara khusus mengawal jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah, termasuk Rais Syuriyah, Yai Ishomudin, dan Ketua PCNU, KH. Nur Mahfudz, SE.( Mas Mahfudz Addakhil )

Sebelum pemberangkatan, seluruh anggota rombongan kami dibekali dengan kaos khusus 1 Abad NU. Kaos ini bukan sekadar pakaian, melainkan identitas pergerakan: bagian depan memuat foto Muassis yang agung, sementara bagian belakang terpampang jelas logo PCNU Kabupaten Lampung Selatan. Penggunaan seragam ini tidak hanya menambah kedisiplinan, tetapi juga meningkatkan rasa bangga dan militansi sebagai utusan resmi yang membawa nama baik Nahdlatul Ulama di daerah.

Kapal Ferry yang membelah Selat Sunda menjadi lautan jamaah Nahdliyin. Suasana di dalam kapal benar-benar mencerminkan kekeluargaan khas Nahdliyin. Saya memanfaatkan momen luar biasa ini untuk terus mendokumentasikan semangat pergerakan. Puncak kehangatan terjadi ketika saya sempat duduk santai bersebelahan dengan Rais Syuriyah, Yai Ishomudin, sambil menikmati secangkir kopi hangat—sebuah momen langka dan penuh hikmah di tengah dentuman ombak Selat Sunda.

Saat sedang menikmati momen berharga itu, tiba-tiba telepon WhatsApp saya berdering dari Mas Dodi, Ketua NU Care-Lazisnu Sidoarjo. Hubungan erat kami sejak Tsunami Selat Sunda menegaskan jejaring kemanusiaan yang kuat. Di tengah suasana kapal yang ramai, Mas Dodi bertanya, "Sampeyan ke sini apa nggak, Mas? Di sini sudah ada rombongan dari Lampung Selatan, kok sampeyan nggak kelihatan?" Pertanyaan yang membuat saya tertawa. Rupanya, Mas Dodi sedang mencari rombongan inti PCNU yang membawa pimpinan utama. Agar beliau yakin, saya memintanya mengubah panggilan menjadi video call. Momen video call itu menjadi puncak unik di tengah penyeberangan Selat Sunda!

Dengan ponsel yang mengarah ke sekeliling, saya menunjukkan bahwa kami datang bersama pimpinan utama._Saya mengarahkan kamera ke Rais Syuriyah, Yai Ishomudin, dan Ketua Tanfidziyah, KH. Nur Mahfudz, SE,_ serta pengurus PCNU lainnya. Panggilan itu menjadi penegasan yang kuat: Kami datang membawa marwah PCNU Lampung Selatan.

Selama di atas kapal ini, saya merasakan betul keakraban dan rasa persaudaraan yang tinggi saat bercengkrama dengan rombongan lain dari luar provinsi, seperti Sumatera Selatan dan wilayah lain. Inilah bahan baku utama membangun peradaban yang dicita-citakan—persatuan dan kepedulian yang melebur di tengah pelayaran. 

Perjalanan ini, menempuh jarak hampir seribu kilometer melintasi Selat Sunda, adalah deklarasi nyata. Kami tidak sekadar bergerak, melainkan berjuang menunaikan ikrar Merawat Jagad Membangun Peradaban (MJMP). Setiap kilometer yang kami tempuh adalah wujud dari komitmen kami untuk merawat persatuan struktural dan membangun peradaban keikhlasan. Kami membawa semangat Nahdlatul Ulama dari ujung Selatan Sumatera, menuju pusat peradabannya di Jawa Timur. Seluruh Nahdliyin yang hadir di Sidoarjo akan merasakan energi pergerakan ini—bahwa kami semua, dari manapun asalnya, adalah satu kesatuan yang bergerak demi cita-cita besar ini.

"Momen keberangkatan ini lebih dari perjalanan; ini adalah konsolidasi marwah struktural. Kaos Muassis di dada adalah ikrar: Kami bukan sekadar hadir, tapi datang membawa panji dan janji sejarah PCNU Lampung Selatan."


Tabik.

Bersambung ke episode berikutnya 🙏

Posting Komentar

0 Komentar