Ticker

6/recent/ticker-posts

TRILOGI PERSAUDARAAN KESAKSIAN SEJARAH DI BALIK PANGGUNG


Setelah ziarah spiritual di makam Syekh Jumadil Kubro, perjalanan bus kami memasuki jam-jam paling berat. Rasa kantuk mulai melanda, menggerus fokus kami di jalan. Namun, di tengah kelelahan fisik, komunikasi di jalan tol justru semakin intens. Menyadari pentingnya kelancaran koordinasi bagi rombongan pimpinan, Mas Dodi Diaudin—Ketua NU Care-Lazisnu Sidoarjo—kembali proaktif. Beliau mengirimkan beberapa nomor panitia lokal lainnya kepada saya. Tindakan ini menunjukkan betapa seriusnya tuan rumah dalam menyambut rombongan PCNU Lampung Selatan, dan mengantisipasi hambatan komunikasi di tengah keramaian jutaan jamaah.

Di tengah perjalanan, obrolan via telepon dengan Mas Dodi memecah kejenuhan dan menciptakan ketegangan baru. "Ada berapa bus rombongan dari Lampung Selatan, Mas?" tanya Mas Dodi. Saya menjawab, ada empat bus. Seketika Mas Dodi terdiam. "Waduh, kalau empat bus, lokasi di kantor [PCNU Sidoarjo] sepertinya tidak akan cukup," ujarnya. Inilah momen krusial yang menuntut saya, sebagai penghubung lapangan, untuk bergerak cepat. Mas Dodi segera menawarkan opsi alternatif, termasuk Gereja GPIB Bethesda Sidoarjo. Saya mengambil inisiatif cepat, fokus pada efisiensi logistik: "Terserah tempatnya di mana, Mas. Yang paling penting adalah dekat lokasi acara dan, yang utama, ada tempat parkir bus." Kami memasuki Sidoarjo pada Senin, 6 Februari, sekitar pukul 15.00 WIB, disambut rintik hujan. Kami mengikuti panduan panitia menuju lokasi yang telah disepakati.

Tak lama, rombongan kami tiba. Kami diarahkan ke area parkir yang ternyata berada persis di seberang jalan dengan Gereja GPIB Bethesda. Solusi darurat ini menjadi sempurna: aman, strategis, dan memecahkan masalah parkir kami. Setelah menurunkan pimpinan—Rais Syuriyah Yai Ishomudin dan Ketua PCNU Hi. Nur Mahfudz SE—kami semua diarahkan masuk ke Gedung Serbaguna gereja. Saat logistik struktural menemui batasnya, spirit Ukhuwah Wathoniyah mengambil alih. Inisiatif dan peran rombongan kami dalam menerima lokasi darurat ini menjadi kunci di balik layar momen toleransi paling otentik di peringatan 1 Abad NU, yang kemudian viral. Ini adalah perwujudan nyata Ukhuwah Wathoniyah (Persaudaraan Kebangsaan) di level akar rumput.

Setelah memastikan pimpinan dan seluruh rombongan beristirahat dengan nyaman dan terhormat, saya memutuskan untuk tidak berlama-lama diam. Waktunya 'Edisi Ngelayap'. Bersama rombongan kader lainnya, kami meninggalkan area gereja dan berjalan kaki menuju pusat keramaian, merasakan langsung atmosfer kemasifan 1 Abad NU di luar stadion. Di tengah hiruk pikuk itulah, persaudaraan terjalin:

1. Hadiah Batik dari Lamongan: Menjelang malam, sahabat lama saya, Mas Edi Suliyono dari Lamongan, datang mencari saya di depan gereja. Mas Edi membawakan hadiah istimewa: dua potong Batik Tulis Khas Lamongan. Malam itu juga, kami langsung mengenakan batik kembar tersebut, menciptakan 'seragam persahabatan' yang melengkapi kisah toleransi di GPIB Bethesda dengan kisah kehangatan persahabatan lintas provinsi.


2. Ukhuwah Islamiyah Lintas Organisasi: Tak lama kemudian, Ribangun Bamban Jakaria, ST., MM., seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) dan sahabat masa kecil saya, datang menghampiri. Mas Ribangun datang di tengah kesibukan UMSIDA yang juga mendukung suksesnya 1 Abad NU. Pertemuan personal ini menegaskan Ukhuwah Islamiyah sejati. Momen boncengan motor kami, dengan kelakar "Kita dulu boncengan naik sepeda, sekarang boncengan naik motor!", menjadi momen nostalgia yang menghangatkan di tengah kota yang padat.

3.Momen makan malam dan bertukar cerita bersama sahabat Muhammadiyah ini menyempurnakan trilogi persaudaraan: Ukhuwah Wathoniyah (Gereja), Ukhuwah Islamiyah (NU-Muhammadiyah), dan Ukhuwah Fardiyah (Sahabat Kecil). Peristiwa ini menegaskan bahwa 1 Abad NU adalah hajat besar seluruh komponen bangsa.

Setelah makan malam, kami kembali ke halaman Gereja. Di saat perpisahan, Mas Ribangun membuka jok motornya. Ia mengeluarkan sesuatu yang jauh lebih bermakna: selembar sarung. Sarung itu adalah hadiah perpisahan, sebuah bekal tawassul yang sangat personal dari seorang sahabat kecil, kader Muhammadiyah, kepada saya yang sedang menjalankan amanah NU. Momen ini sungguh mengharukan (haru++). Sarung tersebut melambangkan persahabatan yang tulus, persatuan, dan dukungan spiritual. Di tengah perayaan besar NU, bekal paling berharga justru datang dari persaudaraan lintas organisasi, di halaman rumah ibadah saudara Kristiani kami. Sarung ini menjadi penutup yang sempurna bagi trilogi persaudaraan di Sidoarjo, dan menjadi bekal spiritual kami untuk memasuki acara puncak 1 Abad NU pada malam ini.


Bersambung ke episode 4.

Posting Komentar

0 Komentar