Ticker

6/recent/ticker-posts

KESAKSIAN PUNCAK DAN JEJAK ZIARAH PARA MUASIS.



Setelah Mas Ribangun beranjak, pelayanan Majelis Jemaat GPIB Bethesda terus memukau. Mobil-mobil logistik terus melintas, mendistribusikan kebutuhan.

Saat saya berjalan mencari rokok, warga Sidoarjo menawarkan rumah mereka untuk beristirahat. Sikap tulus ini membuktikan bahwa 1 Abad NU adalah hajat yang didukung oleh seluruh komponen masyarakat.

Tak lama, saya melihat rombongan dari PCNU Kabupaten Pringsewu (Lampung) tiba dan ditempatkan di kompleks Sekolah Katolik Untung Suropati, bersebelahan dengan gereja kami. Saya bersyukur bisa reuni dengan Mas Rifa'i, teman seangkatan PKPNU Angkatan 1.

Perjumpaan ini menegaskan: meskipun jalur berbeda, semua kader NU Lampung bergerak menuju satu tujuan yang sama.

Waktu semakin malam, tiba saatnya menuju Stadion Gelora Delta. Jarak sekitar 3,1 km, yang normalnya 8 menit, kini menjadi medan perjuangan. Saya, bersama Mas Julianto dan Mas Yudi, bersiap dengan perlengkapan Nahdliyin (sarung, peci, tasbih).

Tiba-tiba, pengurus gereja sibuk menahan kami di depan pintu, karena mereka sudah menyiapkan bekal makanan, minuman, dan snack untuk kami bawa ke stadion. Melihat ketulusan ini, saya spontan tertawa sambil berkelakar, "Ibu/Bapak, kami ini mau ke stadion untuk dzikiran, mau sholawatan, bukan piknik! Kalau bawa makanan banyak-banyak begini nanti dikira mau piknik."

Meskipun berkelakar, terbersit perasaan haru yang mendalam. Untuk menghargai ketulusan hati mereka, saya membawa beberapa bekal. Bekal ini adalah simbol persaudaraan lintas agama yang harus kami junjung tinggi.

Meskipun jaraknya dekat, kami harus berjalan kaki memutar menembus lautan pejalan kaki yang tak terhitung jumlahnya. Di luar stadion, jamaah sudah berjubel, menggelar alas duduk di jalanan. Kondisi ini membuat perjalanan terasa penuh perjuangan.

Saat mencari posisi, kawan-kawan Barikade Gus Dur menghubungi dan mengajak bergabung bersama mereka yang sudah berada didalam Stadion. Namun, saya mantap pada pilihan hati: berada di luar stadion, berbaur dengan jutaan jamaah. Mengikuti Istighotsah Kubro yang dipimpin oleh para ulama, melantunkan dzikir dan shalawat bersama jutaan orang di bawah langit Sidoarjo, memberikan pengalaman spiritual yang jauh lebih mengena dan otentik.

Tak terasa, waktu terus bergulir dan agenda semakin larut. Setelah menghitung waktu yang dibutuhkan untuk kembali, kami bergeser meninggalkan lokasi. Perjalanan pulang menuju gereja terasa sangat berat.

Kami seperti berjalan melawan arus, karena jutaan jamaah lainnya justru baru berdatangan menuju stadion. Momen ini menjadi penutup yang reflektif: kami datang lebih awal, menyaksikan perjuangan persaudaraan, dan kini mundur melawan arus jutaan manusia yang datang mencari berkah.

Kami tiba kembali di Gereja GPIB Bethesda sekitar pukul 06.00 pagi. Setelah bersih-bersih dan charge ponsel, kami kembali turun ke jalan. Namun kali ini saya tidak jalan bersama Mas Zaini atau Mas Julianto atau mas Yudi seperti sebelumnya. Saya berkeliling bersama Mas Sahal, Mas Masduki dan Mas Doly dari MWCNU Jati Agung, mengunjungi beberapa stand dan mengabadikan moment bersama dengan berfoto di depan Kantor Bupati Sidoarjo. Saya menyaksikan mobil bak terbuka sibuk membagikan makanan sarapan secara gratis di perempatan jalan, sebuah bukti pelayanan solid warga Sidoarjo.

Sekitar jam 11 siang, kami putuskan untuk meninggalkan Sidoarjo lebih awal. Saat pamitan, lagi-lagi kami ditahan oleh pihak gereja! Ternyata, pengurus GPIB Bethesda memesankan makan siang untuk seluruh anggota rombongan kami. Perasaan saya jadi mendayu-dayu dan haru.

Pihak gereja telah memberikan lebih dari sekadar akomodasi, tetapi juga menjamin logistik kami hingga saat terakhir. Setelah makanan tiba, kami segera arahkan ke bus, dan dengan hati penuh rasa terima kasih, kami ucapkan Sayonara... Sidoarjo! 😘😘😘

Dari Sidoarjo, perjalanan kami belum usai. Kami melanjutkan perjalanan religi ke Surabaya, Jombang, hingga Demak. Rangkaian ziarah ini menjadi penutup spiritual yang sempurna, menegaskan bahwa seluruh rangkaian perjalanan kami adalah perjalanan khidmat kepada ulama dan khittah kebangsaan.

Kami berziarah ke makam Raden Rahmat Sunan Ampel, menghaturkan khidmat dan meneladani spirit perjuangan dari salah satu Muassis peradaban Islam di Nusantara. 

Dilanjutkan ke makam KH. Hasan Gipo, Ketua PBNU yang pertama. Berziarah kepada beliau di momen 1 Abad NU terasa sangat esensial, mengingatkan kami pada fondasi kepemimpinan dan perjuangan organisasi yang harus selalu kembali pada khittah keikhlasan, tanpa kepentingan politik sesaat.

Kami juga berziarah ke makam KH. Mas Mansyur (Pahlawan Nasional), menegaskan bahwa perjuangan NU selalu menyatu dengan perjuangan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia.

Di makam KH. Wahab Hasbullah, sebagai Kader Penggerak NU pertama di Lampung Selatan, momen ini terasa sangat personal. Berziarah kepada sang pencipta Mars Syubbanul Wathon ini seolah kami sedang di 'cas ulang' spiritual, menguatkan militansi perjuangan dan komitmen kami untuk terus menggerakkan roda organisasi di daerah.

Di makam Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, kami menundukkan kepala, bersimpuh di hadapan Muassis pendiri NU. Momen ini adalah pencerahan batin, meneguhkan janji kami untuk menjaga warisan beliau.

Dilanjutkan ke makam KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), rasa haru membuncah di dada saya selaku anggota jaringan Barikade Gus Dur. Kami juga bertemu Ketua PCNU Lampung Timur, KH. Dardiri Ahmad, S.Pd.I. (Gus Dar). Pertemuan di makam Gus Dur ini menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan keberanian yang diwariskan Gus Dur terus hidup dan menjadi panduan bagi gerakan kader hari ini.

Ziarah terakhir adalah ke Masjid Agung Demak. Kami juga menyempatkan diri mengunjungi museum yang berada di kawasan tersebut. Momen ini menjadi penutup spiritual yang utuh, menghubungkan kembali perjuangan ulama penyebar Islam di Jawa (Walisongo) dengan semangat Nahdlatul Ulama yang baru saja merayakan satu abad peradabannya.

Perjalanan historis ini menegaskan: Kami pulang membawa bekal spiritual, persaudaraan lintas agama, dan militansi yang utuh, siap menunaikan ikrar Merawat Jagad Membangun Peradaban di Lampung Selatan.

"Dalam pergerakan Jam'iyah, bekal paling berharga adalah integritas jaringan kemanusiaan, keberanian merangkul Ukhuwah Wathoniyah sejati, dan komitmen teguh menjalankan Khittah Keikhlasan."

Posting Komentar

0 Komentar