Ticker

6/recent/ticker-posts

MERAWAT "API" MILITANSI, MENJAGA BARISAN JAM’IYYAH


Di Lampung Selatan, seragam batik hijau dengan logo Nahdlatul Ulama bukan sekadar kain penutup tubuh. Ia adalah simbol keringat, baiat, dan militansi. Sejak masuknya sistem kaderisasi PKPNU (yang kini bertransformasi menjadi PD-PKPNU) pada tahun 2019, gelombang "Penggerak Hijau" ini terus membesar. Bayangkan saja, hingga saat ini, kaderisasi tersebut telah melahirkan 38 angkatan, ditambah satu angkatan edisi khusus Muktamar.

Dengan jumlah yang mencapai angka fantastis sekitar 3.000-an kader spektrumnya pun sangat luas: mulai dari pemuda yang masih berapi-api hingga kiai sepuh yang  semangatnya tetap membara.

Pertanyaannya, bagaimana menjaga ribuan kepala dengan berbagai latar belakang ini agar tetap satu komando? Jawabannya ada pada satu tradisi: Silatda (Silaturahmi Daerah).

Secara administratif, Silatda mungkin terlihat seperti rapat koordinasi biasa. Namun, secara esoteris (kebatinan) NU, Silatda adalah forum konsolidasi ideologi. Ini adalah ruang di mana "sanad" perjuangan disambungkan kembali. Silatda adalah tempat di mana struktur bertemu kultur, tempat di mana kiai dan santri duduk melingkar untuk memastikan visi organisasi tetap berada pada jalur Ahlusunnah wal Jama’ah.

Untuk Apa Silatda?

Urgensi Silatda setidaknya mencakup tiga hal mendasar:

1. Mempererat Barisan (Solidaritas): Dengan ribuan kader, potensi "berjalan sendiri-sendiri" sangat besar. Silatda berfungsi sebagai lem perekat agar solidaritas tidak luntur.

2. Manajemen Konflik Politik: Kita teringat momen Silatda IV pada Mei 2023. Di tengah suhu politik yang memanas, Silatda menjadi "pendingin". Kader yang mencalonkan diri dari berbagai partai dikumpulkan agar tidak terjadi "konslet" di lapangan. Ini adalah bukti kedewasaan organisasi: politik boleh beda, tapi imam tetap kiai.

3. Silatda bukan hanya soal bicara. Di Silatda III Januari 2023, program strategis seperti "Kampung NU" diluncurkan sebagai bentuk pengabdian nyata kepada umat.

Kenapa Mesti Silatda?

Kenapa tidak cukup lewat grup WhatsApp saja? Karena militansi tidak bisa dibangun lewat layar ponsel. Militansi dibangun melalui tatap muka, doa bersama, dan mujahadah.

Ada ruh yang hanya bisa dirasakan saat kader berkumpul, seperti saat Silatda II di pinggir laut dengan tradisi "bontot" (membawa bekal sendiri). Kemandirian ini menunjukkan bahwa kader penggerak adalah pribadi yang "selesai dengan dirinya sendiri". Mereka tidak menunggu logistik untuk bergerak; mereka adalah logistik itu sendiri.

Melihat besarnya potensi yang ada, tantangan bagi Jam’iyyah saat ini adalah menjaga agar roda organisasi tetap berputar pada porosnya. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang denyut nadinya terasa melalui kegiatan-kegiatan kolektif yang konsisten, bukan sekadar terjebak pada rutinitas administratif.

Dalam suasana dinamika organisasi yang dinamis saat ini, konsistensi menyelenggarakan forum seperti Silatda justru menjadi kunci. Jangan sampai dinamika eksternal membuat kita kehilangan fokus pada akar rumput. Sebab, 3.000-an kader penggerak yang tersebar dari Angkatan 1 hingga Angkatan 38 plus angkatan khusus Muktamar adalah aset yang terlalu mahal untuk dibiarkan dingin. Mereka butuh ruang untuk terus bergerak, mengabdi, dan menjaga api silaturahmi tetap menyala demi kejayaan Nahdlatul Ulama di Lampung Selatan.

"Memimpin ribuan kader militan adalah amanah yang menuntut keistiqamahan. Silatda bukan hanya agenda tahunan, melainkan komitmen jam'iyyah untuk tidak membiarkan satu pun kader berjalan sendirian. Karena dalam barisan yang rapat, tidak akan ada ruang bagi keraguan untuk masuk merusak cita-cita besar Nahdlatul Ulama."

Siapa Kita...???!!!

Posting Komentar

0 Komentar