Menjadi pintu gerbang sebuah pulau besar bukan sekadar perkara lalu lintas logistik dan manusia. Bagi Nahdlatul Ulama, wilayah transit seperti Bakauheni adalah benteng pertama pertahanan ideologi.
Inilah yang mendasari PCNU Lampung Selatan menggelar Pendidikan Dasar Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU) Angkatan XIV di Pondok Pesantren Miftahul Huda 1040, Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, pada 7-9 Oktober 2022 silam.
Kegiatan yang berlangsung pada 11-13 Rabiul Awal 1444 H ini menjadi tonggak sejarah baru, di mana untuk pertama kalinya MWCNU Bakauheni bertindak sebagai tuan rumah penyelenggara setelah estafet dari Angkatan XIII di Rajabasa.
Salah satu fragmen paling emosional dalam pengaderan ini adalah prosesi penanaman bibit pohon sawo di area pondok. Diiringi lantunan selawat yang menggetarkan, Pengasuh PP Miftahul Huda 1040, Kiai Yayan Daryani, melangkah membawa bibit pohon tersebut. Ia didampingi langsung oleh Ketua PCNU Lampung Selatan, Hi. Nur Mahfudz.
Di sisi kiri dan kanan, bendera Merah Putih dan bendera Nahdlatul Ulama berkibar gagah, dibawa oleh para Kader Penggerak dengan langkah tegap.
Pemilihan pohon sawo bukanlah kebetulan. Secara kultural, sawo adalah sandi perjuangan Laskar Diponegoro. Secara bahasa, ia merujuk pada pesan “Sawwu Sufufakum” perintah untuk merapatkan barisan dalam salat yang ditarik ke dalam konteks organisasi.
Penanaman ini adalah simbol bahwa kader NU di Bakauheni harus memiliki akar yang kuat ke bumi (ekologis-populis) namun memiliki pucuk yang tinggi menjangkau langit (spiritualis).
Barisan yang rapat adalah prasyarat mutlak agar "gerbang Sumatera" ini tidak mudah ditembus oleh paham yang tidak selaras dengan napas Aswaja An-Nahdliyah.
Yang menarik dari Angkatan XIV ini adalah soliditas lintas sektoral yang ditunjukkan. PD-PKPNU bukan sekadar ajang kumpul-kumpul struktural, melainkan ruang aktivasi peran.
Hal ini terlihat jelas dari keterlibatan para kader penggerak dari Bakauheni dan Ketapang yang mengambil peran krusial di balik layar.
Catatan khidmah mencatat nama-nama seperti Agus Salim, Iskani, Asmuni, Wahyu, Alaysi, Alisa, Asep Nuriman, Sri Wahyuni, hingga Bu Neng dan Kader Penggerak lainnya.
Mereka, bersama tim lainnya, menjadi tulang punggung di bagian dapur umum dan kepanduan. Keterlibatan mereka menegaskan bahwa di NU, pangkat tertinggi adalah pengabdian.
Kader Penggerak NU yang ada "pasang badan" untuk memastikan memastikan mendapatkan pelayanan terbaik selama digembleng.
Puncak pengaderan ditandai dengan upacara baiat yang berlangsung khidmat, dihadiri langsung oleh Rais Syuriyah PCNU Lampung Selatan, Kiai Ishomudin.
Meski prosesi berjalan ketat sesuai protokoler upacara, kehadiran sosok puncak di jajaran Syuriyah ini memberikan legitimasi spiritual bahwa para kader yang lulus telah resmi menjadibagian dari pasukan "penjaga gawang" NU.
Instruktur dari unsur PCNU seperti Ust. Zaini dan Ust. Julianto, serta Mas Iwanudin dari tingkat Wilayah, menekankan satu pesan kunci: lulusan Angkatan XIV harus menjadi motor penggerak.
Di tengah keberagaman peserta yang juga datang dari Kecamatan Ketapang dan Way Sulan, tugas mereka sama: menghidupkan mesin organisasi di tingkatannya masing-masing.
Kini, pohon sawo telah tertanam di Miftahul Huda 1040. Seiring tumbuhnya pohon tersebut, tumbuh pula harapan agar para kader penggerak Bakauheni mampu menjadi peneduh bagi umat dan penjaga yang kokoh di pintu masuk tanah Lampung.
"Khidmah adalah maqam tertinggi yang melampaui sekat struktural. Kesuksesan kaderisasi bukan sekadar narasi dari balik podium, melainkan orkestrasi ketulusan dari para 'mujahid senyap' yang menghidupkan napas organisasi melalui kepulan asap dapur dan tegaknya panji-panji di barisan protokol."
Siapa Kita...???!!!

0 Komentar