Jati Agung bagi Lampung Selatan adalah sebuah pelataran. Sebagai wilayah yang bersentuhan langsung dengan denyut urban Bandar Lampung, ia menjadi ruang pertemuan antara kemajuan material kota dan keteguhan spiritualitas desa. Di wilayah "antara" inilah, Nahdlatul Ulama (NU) Lampung Selatan memancangkan pasak ideologinya melalui Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU).
Ini bukan sekadar catatan organisasi, melainkan sebuah perjalanan panjang merawat akar di tengah tarikan arus modernitas yang kian kencang. Melaksanakan rangkaian angkatan monumental di wilayah ini bukanlah perkara mudah semudah membalik telapak tangan.
Jejak keberhasilan ini bermula pada medio November 2021, tepatnya tanggal 12 hingga 14, di Pondok Pesantren Darussalamah asuhan Kiai Nurcholis. Dalam PKPNU Angkatan VII tersebut, sebuah peristiwa kultural yang dalam terjadi: barisan peserta melibatkan jamaah Thoriqoh yang bersatu dengan fungsionaris struktural dari tingkat Ranting hingga MWCNU. Ada upaya "manunggal" antara kekuatan batin para salik dengan kedisiplinan gerak para penggerak.
Di bawah bimbingan instruktur dan personel TNI, NU Jati Agung sedang menyatukan frekuensi batin untuk menjaga kedaulatan umat di wilayah perbatasan kota yang rentan terhadap gesekan ideologi transnasional. Kehadiran Rais Syuriyah dan pimpinan dari kabupaten tetangga, seperti Lampung Timur, kian mempertegas bahwa barakah sanad melampaui batas administratif.
Melalui Ustaz Nurul Huda sebagai motor panitia, angkatan ini mencetak "pasukan organik" yang menjaga gawang di tingkat Ranting agar suara tahlil tetap menggema. Estafet perjuangan itu terus memanjang saat Muktamar NU ke-34 mulai memuncak di pusat kota pada 20-22 Desember 2021. Di perbatasan Jati Agung, tepatnya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, sebuah barisan sunyi sedang dirapikan melalui PKPNU Edisi Khusus Muktamar.
Lokasi ini menjadi buffer zone ruhaniah; penyaring ideologi bagi kader dari pesisir Lampung Selatan hingga utusan luar provinsi seperti Sumatera Utara dan Jambi, sebelum mereka memasuki "medan laga" di arena Muktamar. Fragmen puitis namun penuh makna dalam kegiatan ini adalah pembagian bibit pohon sawo oleh Kiai Abdul Aziz Attarmasi bersama instruktur nasional seperti Kyai Mun'im.
Secara kultural, sawo adalah warisan laskar Diponegoro sebagai sandi perjuangan: Sawu sufufakum, rapatkan barisanmu. Di sini, para kader melakukan riyadhah organisasi, menyelesaikan "urusan" dengan diri sendiri sebelum ikut mengawal hajat besar para kiai. Kehadiran Kiai Aziz yang juga Instruktur Wilayah menjamin bahwa sanad ilmu dan pergerakan tetap tersambung kuat.
Sembilan hari perjalanan ruhaniah itu akhirnya digenapi pada pertengahan Februari 2023, bertepatan dengan 26-28 Rajab 1444 H, di Universitas Islam An-Nur Lampung. Dalam PD-PKPNU Angkatan XVIII ini, terjadi sebuah dekonstruksi otoritas yang sangat subtil: saat nalar intelektual kampus menyatu kembali dengan tradisi pesantren.
Titik sentral dari narasi ini ada pada sosok Dr. KH. Andi Warisno, M.MPd. Sebagai Rektor sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in, beliau memarkir seluruh atribut menterengnya di gerbang kampus untuk duduk tegak sebagai peserta yang patuh di bawah bimbingan para instruktur, termasuk Kiai Nawir dan Kiai Muhyidin Thohir.
Sinergi antara nalar dan ruh ini kian lengkap dengan penanaman pohon sawo di lingkungan kampus yang dibawa langsung oleh Pak Andi Warisno dan didampingi H. Nur Mahfudz, Ketua PCNU Lampung Selatan. Ini adalah sebuah mandat suci untuk merapatkan barisan intelektual dengan garis jam'iyyah.
Di sisi lain, kedaulatan kultural tetap terjaga lewat kepul asap dapur dan kesigapan khidmah para santri Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in yang mengawal logistik dengan penuh dedikasi. Di sini, kekuatan organisasi memang tidak dipamerkan dalam statistik, melainkan dirasakan dalam gerakan yang presisi sebagai marwah organisasi.
Rangkaian sembilan hari yang terbagi dalam tiga fragmen waktu ini akhirnya meninggalkan sebuah catatan yang mendalam. Jati Agung telah membuktikan bahwa kedaulatan organisasi tidak dibangun dalam semalam, melainkan melalui keteguhan hati para kader yang berani berjanji di bawah panji dan doa para ulama.
Dari Darussalamah, Bahrul Ulum, hingga An-Nur, ilmu yang sejati dibuktikan lewat kemampuannya menyelaraskan tugas keduniawian dengan pengabdian tanpa batas pada garis komando kiai. Barisan telah dirapikan sepekat akar sawo yang kini menghujam kuat di bumi Jati Agung.
--------
"Kedaulatan organisasi tidak diukur dari siapa yang duduk di kursi pimpinan, melainkan dari seberapa rapat dan kokohnya barisan yang tertanam hingga ke akar rumput."
Siapa Kita...???!!!

0 Komentar