Ada getaran yang tak biasa saat panji-panji Nahdlatul Ulama mulai terpancang di Dusun Merambung, Desa Padan. Penengahan bukan sekadar titik koordinat di peta Lampung Selatan; ia adalah tanah dengan memori kolektif perlawanan yang kental.
Di sinilah, di bawah bayang-bayang Gunung Rajabasa yang kokoh, PCNU Lampung Selatan mengorkestrasi Pendidikan Dasar Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU) Angkatan XV pada 4-6 November 2022.
Bertempat di MI Uswatun Hasanah, perhelatan perdana tingkat kecamatan ini menjadi momentum krusial bagi MWCNU Penengahan di bawah nakhoda Ust. Busyro. Pemilihan lokasi di tingkat dusun ini mengirimkan sinyal tajam: bahwa kaderisasi NU tidak sedang membangun menara gading, melainkan sedang membumikan ideologi ke palung akar rumput yang paling sunyi.
Dinamika di Merambung mencatatkan anomali yang elegan. Kehadiran Kepala Desa Padan dalam barisan peserta menunjukkan luluhnya sekat birokrasi di bawah otoritas khidmah. Di forum ini, posisi administratif sebagai pamong desa melebur dalam satu tungku pengaderan yang sama dengan rakyatnya. Ini adalah potret rekonsiliasi ulama dan umara yang paling jujur; bersimpuh di bawah bimbingan instruktur seperti Hi. Nur Mahfudz, Gus Abror, dan Kiai Nawir demi satu tujuan: kedaulatan Aswaja.
Namun, kejutan sesungguhnya lahir dari "mujahid senyap" yang mengawal dapur dan barisan protokol. Ketika Penengahan sebagai tuan rumah baru masih meraba formasi, para kader penggerak dari Bakauheni dan Ketapang datang melipat jarak.
Nama-nama seperti Abah Komar, Sadeli, Nizar, Iskani, Asmuni, hingga Mbak Muslikhah dan Ibu Legini, hadir memasang badan. Solidaritas lintas kecamatan ini membuktikan bahwa militansi penggerak tidak mengenal batas demarkasi wilayah. Mereka datang bukan karena instruksi kering di atas kertas, melainkan karena panggilan "darah" pengabdian yang sama.
Fragmen penanaman pohon sawo di Angkatan XV ini membawa dimensi emosional yang lebih tebal. Ia tak lagi sekadar simbol sandi Diponegoro atau refleksi “Sawwu Sufufakum”. Di Merambung, pohon sawo adalah perwujudan sanad khidmah yang visual.
Bibit-bibit tersebut adalah "sedekah oksigen" yang dihibahkan oleh para senior—Kyai Ali Mahmudi, Pak Noor Tajudin dari Tanjung Bintang, serta Ibu Sri Wahyuni dari Ketapang.
Pelabelan nama Kader Penggerak NU pada bibit pohon tersebut bukan untuk mengekalkan ego, melainkan penegasan bahwa setiap napas perjuangan kader baru adalah "hutang ideologis" yang harus dibayar dengan ketulusan.
Kader Penggerak NU Angkatan IV dan XII sedang menanam harapan di rahim Angkatan XV. Ini adalah cara NU merawat regenerasi: yang senior memberi napas (oksigen), yang junior menjaganya agar tetap tumbuh hijau di tanah para pejuang Penengahan.
Puncak sakralitas pengaderan ini terjadi saat Rais Syuriyah PCNU Lampung Selatan, Kiai Ishomudin, memandu pembacaan bait-bait baiat di hadapan seluruh peserta.
Kehadiran pucuk pimpinan tertinggi secara spiritual di tingkat Cabang ini menegaskan bahwa para kader dari Candipuro hingga Tanjung Sari kini telah resmi menjadi bagian dari barisan penjaga marwah organisasi.
Dusun Merambung mungkin sunyi secara geografis, namun resonansi pengabdian yang lahir dari MI Uswatun Hasanah ini telah memastikan bahwa api perjuangan di kaki Rajabasa kini berkobar dalam bentuk khidmah yang paling konkret dan terukur.
"Khidmah adalah maqam tertinggi yang melampaui sekat struktural. Kesuksesan kaderisasi bukan sekadar narasi dari balik podium, melainkan orkestrasi ketulusan dari para 'mujahid senyap' yang menghidupkan napas organisasi melalui kepulan asap dapur dan tegaknya panji-panji di barisan protokol."
Siapa Kita...???!!!

0 Komentar