Memasuki fajar 4 Januari 2026 yang bertepatan dengan 14 Rajab 1447 H, denyut batin Nahdliyin kian kencang menyongsong dua momentum besar: Harlah ke-103 versi Hijriah pada 16 Rajab nanti, dan peringatan Satu Abad NU (1926-2026) secara Masehi pada 31 Januari mendatang.
Namun, di balik semangat tasyakuran doa dan pengibaran bendera yang diserukan KH Marzuki Mustamar, ada sebuah tanya yang kian menyesakkan nalar manajerial kita: Mengapa "menara gading" organisasi masih diselimuti keheningan tanpa Logo dan Tema resmi?
Bagi saya yang terbiasa merawat tradisi literasi visual, ketiadaan panduan hingga detik ini adalah sebuah interupsi serius terhadap gairah syiar. Jika untuk Harlah 103 Hijriah kita hanya tersisa waktu dua hari, maka untuk momentum monumental Satu Abad Masehi, kita hanya menyisakan kurang dari satu bulan. Absennya identitas visual di titik waktu sekritis ini bukan lagi sekadar keterlambatan administratif, melainkan sebuah darurat identitas.
Logo dan Tema bukan sekadar urusan estetika; keduanya adalah "ruh" yang menyatukan gerak jutaan warga. Ketika nalar organisasi terdistraksi oleh urusan internal yang melampaui kepentingan akar rumput, ruang inovasi bagi para penggiat kreatif pun ikut terjeda.
Padahal, bagi kami di daerah, simbol-simbol tersebut adalah instrumen pemberdayaan UMKM dan kemandirian kader, sebagaimana kaos edisi terbatas (limited edition) yang sering saya desain secara mandiri sebagai kado khidmah.
Namun, kesunyian di pusat tidak lantas membekukan gerak di daerah. Poster yang saya unggah hari ini, dengan angka 103 yang saya guratkan dalam aksara Hijaiyah, adalah bentuk kedaulatan batin terhadap momentum bulan Rajab ini.
Jika pada peringatan Masehi nanti saya mungkin akan menggunakan angka biasa, maka pada peringatan Hijriah ini, aksara Hijaiyah dipilih sebagai simbol kedekatan kita pada akar sejarah dan kalender perjuangan para kiai di pesantren.
Kemandirian visual ini adalah bukti bahwa khidmah tidak boleh mati suri hanya karena pusat sedang kehilangan nalar kreatifnya atau terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Warga di tingkat bawah telah membuktikan bahwa mereka mampu merayakan cintanya secara organik, tanpa harus selalu bergantung pada "komando estetik" dari Jakarta.
Pada akhirnya, ketiadaan Logo tahun ini justru menuntun kita kembali pada simbol yang paling abadi: Bendera NU. Ketika simbol-simbol musiman itu absen, bendera hijau berlambang jagad tetap tegak berkibar sebagai identitas tunggal yang mempersatukan.
Saya memilih tetap bergerak; mengolah potongan video warga yang dengan ikhlas memanjat tiang bendera di sudut-sudut desa sebagai pesan kolektif bahwa pemilik sah jam’iyyah ini adalah warga yang tulus, bukan mereka yang hanya sibuk berselancar di panggung nasional.
Menjelang Satu Abad perjalanan ini, semestinya NU hadir dengan kematangan manajerial yang selaras dengan gairah kultural warganya. Jika urusan fundamental seperti identitas visual saja terabaikan di sisa waktu yang kian sempit, lantas bagaimana kita berharap jam’iyyah ini mampu memimpin peradaban dunia di abad kedua nanti?
Selamat menyongsong Harlah ke-103 dan Satu Abad Nahdlatul Ulama. Biarlah bendera kita tetap berkibar tinggi melampaui segala kesunyian simbol, karena NU tetap hidup dalam setiap tarikan napas khidmah warganya.
Digdaya Nahdlatul Ulama, Menjaga Marwah Menjemput Berkah.

0 Komentar