Sejarah perjalanan PCNU Lampung Selatan pada periode 2019-2024 merupakan lembaran yang penuh dengan ujian keteguhan. Di tengah dinamika organisasi, PCNU Lampung Selatan harus kehilangan dua sosok pilar spiritualnya secara berurutan dalam waktu yang relatif singkat.
Dinamika ini kemudian bermuara pada terbitnya Surat Keputusan P.B. Nahdlatul Ulama Nomor: 343.a/A.II.04.d/03/2021 tentang Pengesahan PCNU Kabupaten Lampung Selatan Antar Waktu.
Perjalanan SK Antar Waktu ini menyimpan kisah estafet kepemimpinan yang sangat mendalam. Pasca-berpulangnya Rais Syuriyah hasil Konfercab, KH. Muhammad Syukron, pada 14 Desember 2020, jajaran Syuriyah segera melakukan konsolidasi guna menjaga stabilitas organisasi.
Dalam rapat tersebut, disepakati bahwa amanah Rais Syuriyah dilanjutkan oleh KH. Nafis Musthofa Ghufron, dengan posisi Wakil Rais dipercayakan kepada Kyai Ishomuddin.
Namun, takdir Allah berkata lain. Sebelum surat keputusan (SK) perubahan tersebut sempat diterbitkan secara administratif oleh PBNU, KH. Nafis Musthofa Ghufron pun menyusul berpulang ke Rahmatullah pada 18 April 2020.
Peristiwa duka yang beruntun dalam kurun waktu kurang dari satu tahun ini menempatkan Kyai Ahmad Ishomuddin sebagai pemegang mandat berikutnya dalam hierarki Syuriyah untuk melanjutkan nakhoda organisasi sebagai Rais Syuriyah. Transisi ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan langkah penyelamatan organisasi yang dilakukan sesuai dengan aturan dan kehormatan para masyayikh.
SK yang ditetapkan di Jakarta pada 26 Rajab 1442 H / 10 Maret 2021 M ini menjadi bukti administratif atas ijtihad struktural tersebut. Dokumen ini menjamin bahwa setiap gerak langkah pengurus tetap berada dalam koridor hukum organisasi yang sah, sekaligus mengukuhkan kesinambungan sanad kepemimpinan di Lampung Selatan.
Jajaran Mustasyar pada periode antar waktu ini diperkuat oleh: KH. Hamim Fadhil, KH. Mundhori Muslim, KH. Ahmad Munandir, KH. Ahmad Saefuddin, Habib Assadullah Assegaf, KH. Tarmudzi, KH. Zaenal Musthofa, KH. Aj. Muh Sadeli, dan KH. Nur Rohman.
Pada jajaran pimpinan Syuriyah, amanah Rais kini diemban oleh Kyai Ahmad Ishomuddin. Beliau didampingi oleh jajaran Wakil Rais: KH Endang Arif, M.Pd.I, KH Imam Mas’ud, Kyai Ahmad Nadzir a-Qoitsy, KH Ahmad Fadholi, KH Husin Hidayatullah, KH. Zakaria Mahmud, KH Samsuddin Nawawi, dan KH Admad Firdaus.
Sektor administratif Syuriyah dikawal oleh Katib Al-Habib Ahmad Al-Ghozali Ass-Segaf dengan dukungan Wakil Katib: Ust. Mahmudi, S.Pd.I, Ust. Sanusi, Ust. Qurtubi, Ust. Sulaiman Kurdi, Ust. Moh. Yusuf, Ust. Abdul Syukur al-Hafidz, Ust. Sholeh As-Samawy, Ust. Nurdin, dan Ust. Fathurrahman.
Guna memperkuat jajaran penasihat, posisi A’wan dihuni oleh: H. Sharif, SQ, dr. Sutomo Hendra, AP, Ahmad Sobirin, Mahmud al-Hafudz, Drs. Sutarman, Afrizandi, S.Fil., M.Pd.I., Ust. Indra Dzul Qodri, S.Th., M.Kom.I., Asmuni, M.Pd., M. Ali Bahruddin, SE., dan Ahmad Mushofa, M.Pd.
Sementara itu, mandat Tanfidziyah tetap dipimpin oleh H. Nur Mahfudz, SE sebagai Ketua, didukung oleh jajaran Wakil Ketua: Ust. Zaini Ghofur, M.Pd.I., Ust. H. Ashari Syarif, SE., M.Pd.I., Ust. Anwar Katijo, M.Pd.I, Ust. Heru Saharita, S.H.I., Ust. Ali Darman, S.Pd.I, Ust. Saipulloh, M.Pd., Ust. Fuady, M.Pd.I., dan H. Zaenudin Oetomo, S.Ag., MM.
Sektor kesekretariatan dikelola oleh Abdul Haris, S.Ag., M.H.I selaku Sekretaris, dengan dukungan barisan Wakil Sekretaris: Ust. A. Sholihin, S.A.N., M.E.Sy., Yudi Safrinal, SE, Ahmad Nur Fauzi, Abdul Haris Budi Utomo, S.Pd.I, Edi Sriyanto, dan Syahbudin, SE.
Amanah keuangan organisasi dipercayakan kepada Julianto, M.Pd selaku Bendahara, dibantu oleh jajaran Wakil Bendahara: H. Jajang Hidayat S., Raden Bagus Sutaji, Agus Sutanto, ST., H. Sutaji Abdullah, dan H. Rofiq.
Dengan terbitnya SK Antar Waktu 2021-2024 ini, genaplah sudah catatan rekam jejak pengabdian Nahdlatul Ulama di Lampung Selatan dalam kurun waktu hampir tiga dekade terakhir.
Sejak periode 1995-2000 hingga titik terakhir di masa khidmat 2021-2024, kita menyaksikan bahwa NU bukan sekadar organisasi yang kaku secara administratif, melainkan sebuah organisme hidup yang terus bergerak melintasi zaman.
Rangkaian dokumentasi ini, mulai dari era kepemimpinan para masyayikh terdahulu hingga estafet kepemimpinan di masa transisi yang penuh duka ini, adalah upaya kita bersama untuk menjaga "Sanad Khidmah".
Sebagaimana kaidah al-muhafadhotu ala qodimis sholih wal akhdu bil jadidil ashlah, pendokumentasian ini memastikan bahwa generasi mendatang tidak akan kehilangan kompas sejarah dalam melanjutkan perjuangan para ulama di Bumi Khagom Mufakat.
Setiap nama yang tercantum, setiap tanda tangan yang tertera, dan setiap keringat yang tertumpah adalah saksi bisu atas komitmen menjaga NKRI dan membumikan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah.
Akhirnya, kepada para masyayikh yang telah mendahului kita, semoga Allah Swt mencatat khidmah mereka sebagai amal jariyah yang tak terputus. Dan bagi para penerus, tongkat estafet ini kini berada di tangan kita untuk terus diayunkan demi kejayaan Jam'iyah dan kemaslahatan umat.
"Menyisir sejarah dari SK 1995 hingga hari ini adalah upaya kita menjaga sanad perjuangan. Kita menulis agar generasi esok tahu bahwa di balik tegaknya organisasi ini, ada air mata, doa, dan dedikasi tanpa batas dari para pendahulu kita."

0 Komentar