Jika dinding Masjid Safinatun Najah bisa berbicara, ia mungkin akan menceritakan tentang ribuan keping koin yang dikumpulkan dengan penuh ketulusan. Di Way Lubuk, Kalianda, bangunan ini berdiri bukan sekadar sebagai tempat sujud, melainkan sebagai monumen kemandirian.
Menjelang perhelatan Silatda V dan Harlah 100 Tahun NU pada 25 Januari 2026, Safinatun Najah kembali dipanggil untuk menjadi saksi sejarah: tempat di mana militansi para penggerak diuji dan diperbaharui.
Menyebut Safinatun Najah adalah memanggil memori tentang pengabdian tanpa sekat. Interiornya yang kini kian cantik adalah hasil dari "ijtihad kolektif" jamaah yang memilih berdaulat secara ekonomi.
Sejarah mencatat betapa kiai dan santri di sini tidak hanya piawai merawat dalil, tapi juga tangguh dalam kerja-kerja fisik pembangunan. Inilah spirit yang ingin ditarik kembali dalam Silatda V; bahwa kekuatan Jam’iyyah harus seirama dengan kemandirian finansial yang mengakar di akar rumput.
Perjalanan menuju satu abad NU di Lampung Selatan adalah perjalanan merawat sanad perjuangan. Kita bisa belajar dari keteladanan Almaghfurlah Kiai Muhammad Syukron.
Beliau adalah prototipe kader sejati yang memahami bahwa struktur organisasi adalah ladang pengabdian, bukan sekadar ruang jabatan. Pengabdian panjang beliau mulai dari Syuriyah hingga belasan tahun menjadi Mustasyar mengajarkan kita tentang "kelapangan hati struktural".
Spirit inilah yang mendasari pentingnya menjaga tertib administrasi. Menyisir kembali lembaran SK sejak tahun 1995 bukan sekadar urusan kearsipan, melainkan upaya menjaga kejernihan jalur perjuangan agar tidak terputus. Di balik tegaknya PCNU Lampung Selatan saat ini, ada dokumentasi keringat dan air mata para pendahulu yang wajib kita jaga marwahnya.
Momentum Silatda V menjadi titik krusial untuk melakukan sinkronisasi gerak. Setelah sekian lama dinamika lapangan berjalan dengan tantangannya masing-masing, kini saatnya seluruh kader penggerak kembali masuk dalam satu barisan yang rapat. Tidak boleh ada celah bagi keraguan, dan tidak boleh ada ruang bagi ego sektoral.
Agenda yang dimulai tepat pada pukul 00.00 WIB melalui Mujahadah dan Istighotsah Alhasyimiyah menegaskan posisi tawar spiritualitas kita. Kader penggerak diajak untuk "selesai dengan dirinya sendiri" di hadapan Allah sebelum mengemban tugas-tugas organisasi yang berat.
Kedisiplinan ini kemudian ditampilkan secara proporsional melalui simbol-simbol visual. Keseragaman kemeja putih dan sarung hitam adalah representasi dari ketaatan pada instruksi (Sami'na wa Atha'na).
Sementara itu, kehadiran berbagai "Kaos Angkatan" saat senam pagi adalah bukti bahwa mesin kaderisasi kita yang telah melewati 38 angkatan sejak 2019 terus memproduksi pejuang-pejuang baru yang siap menjaga marwah organisasi hingga abad-abad berikutnya.
Seluruh rangkaian prosesi ini akan bermuara pada tumpengan kedaulatan di jam 10 pagi. Sebuah pesan simbolis bahwa setinggi apa pun diskusi strategis di meja struktural, keberpihakan NU harus tetap kembali ke dasar: melayani umat dan menjaga tradisi.
Silatda V di Masjid Safinatun Najah bukan sekadar pertemuan fisik, melainkan "Apel Kesetiaan" untuk menjemput fajar abad kedua dengan barisan yang kokoh, administrasi yang rapi, dan spiritualitas yang membumi.
Siapa Kita...???!!!

0 Komentar