Ticker

6/recent/ticker-posts

MERAWAT MARWAH DI JALAN SUNYI.


Ada sebuah adagium lama di dunia pesantren; bahwa khidmah yang paling murni seringkali lahir di tempat yang paling jauh dari lampu sorot struktural. Ia adalah jenis pengabdian yang tidak butuh panggung untuk menyala, dan tidak butuh tepuk tangan untuk tetap bergerak. Di titik inilah, mata batin saya tertuju pada sosok muda yang memiliki kedalaman akar yang kokoh di tanah Way Sulan: Ust. Roby Gunawan.

Membaca riwayat Roby adalah membaca sebuah perjalanan di beranda Way Sulan. Pada 2009, ia melakukan apa yang jarang dilakukan kader sebayanya: memikul beban sejarah dengan mengenalkan NU kepada masyarakat kultural yang saat itu masih asing dengan bahasa organisasi. Ia tidak datang sebagai penikmat struktur yang sudah mapan; ia adalah penanam benih IPNU dan Pagar Nusa di tanah yang masih keras.

Sebagai Kader Penggerak NU Angkatan ke-2, Roby adalah prototipe kader yang telah selesai dengan egonya sendiri. Ia memahami betul bahwa dalam jagat Nahdliyin, memimpin bukan soal seberapa banyak instruksi yang diteriakkan, melainkan seberapa pantas diri kita menjadi uswah. Di Pondok Pesantren Darul Muta’alimin, ia melampaui peran seorang instruktur; ia memilih jalan sunyi untuk menjadi contoh sebelum memberi contoh.

Kematangan mentalnya teruji dalam sikap yang stabil dan tidak grusak-grusuk. Ketenangannya adalah bentuk wibawa yang terjaga, mencerminkan sosok santri yang lebih banyak bekerja daripada bersolek diksi. Bagi Roby, khidmah bukan soal panggung formalitas, melainkan soal bagaimana memastikan marwah kyai dan pesantren tetap terjaga melalui integritas yang tak bisa ditawar.

Visi NU Kecil dan Kemandirian Pangan Satu hal yang paling menggetarkan dari visi mantan Sekretaris RMI ini adalah obsesinya tentang pesantren sebagai "NU Kecil". Sebuah mimpi besar di mana pesantren tidak hanya menjadi tempat tafaqquh fiddin, tetapi juga laboratorium peradaban yang mandiri secara ekonomi.

"Pesantren harus mandiri, tidak boleh terus bergantung pada tangan orang lain," tuturnya suatu ketika. Kalimat ini bukan sekadar retorika panggung. Ia mempraktikkannya dengan memastikan pesantren mampu menjadi penyangga logistik bagi agenda-agenda kemaslahatan, tanpa pernah bertanya apa yang akan ia dapatkan kembali. Ia lebih memilih menjadi "tangan di atas" yang menyuplai kebutuhan umat, ketimbang menjadi bagian dari kerumunan yang hanya sibuk dengan urusan administratif namun abai pada realita akar rumput.

Dari Roby Gunawan, kita belajar bahwa menjadi pengurus NU bukan soal kursi jabatan, melainkan soal ketahanan mental dalam berkhidmat. Jika ia sudah mampu lulus dari ujian "keikhlasan" saat sumbangsihnya dianggap angin lalu, maka ia sedang menempa diri untuk tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Menuju Satu Abad NU, Lampung Selatan butuh lebih banyak sosok yang tetap "menyala" dalam keteduhan. Sosok yang tetap memegang teguh adab santri, yang tetap menari dalam pengabdian meski panggung seringkali lupa memanggil namanya. Karena pada akhirnya, sejarah hanya akan mencatat mereka yang menanam dengan hati, bukan mereka yang hanya pandai bersolek di depan kamera.

"Khidmah yang sejati tidak tumbuh di bawah sorotan lampu panggung, melainkan di kedalaman tanah yang ia babat sendiri. Ia adalah tarian sunyi seorang santri; yang meski namanya alpa disebut dalam administrasi dunia, detak pengabdiannya bergaung hingga ke langit masyayikh."

Siapa Kita...???!!!

Posting Komentar

0 Komentar