Ticker

6/recent/ticker-posts

KH. AHMAD MUNANDIR, THORIQOH NGAJI DAN JALAN QONA’AH


Di tengah deru perubahan zaman yang menuntut segala sesuatu bergerak serba cepat, seringkali kita kehilangan arah tentang makna pengabdian yang sesungguhnya.

Dalam organisasi sebesar Nahdlatul Ulama, godaan untuk sekadar tampil di permukaan seringkali lebih besar daripada keinginan untuk menyelami kedalaman nilai. Namun, di Lampung Selatan, kita masih memiliki cermin bening untuk berkaca tentang apa itu istiqomah. Cermin itu bernama KH Ahmad Munandir.

Kedalaman ilmu Kiai Munandir bukanlah tumbuh dari ruang hampa. Beliau adalah buah dari didikan disiplin KH Hisyam Zuhdi di Pondok Pesantren Attaujieh Al-Islamy, Leler, Banyumas.

Akar keilmuan yang kuat dari bumi Jawa Tengah ini kemudian dipertemukan dengan disiplin spiritual di bawah bimbingan KH Jaezuli (Banjar, Jawa Barat) melalui Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah.

Namun, bagi Kiai Munandir, jalan spiritual tidak hanya ditempuh di atas sajadah melalui wirid-wirid panjang. Beliau merumuskan sebuah konsep yang luar biasa: "Thoriqoh Mengajar".

Bagi beliau, mengajar santri dan menebar ilmu adalah laku lampah menuju Allah Swt yang paling utama. Prinsip ini beliau ejawantahkan dengan mendirikan Yayasan Pendidikan Al-Muhajirin serta Yayasan dan Pondok Pesantren Syamsul Ma’arif di Pematang Pasir.

Di sana, di tengah riuh rendah suara santri mengaji, beliau tak pernah bosan mengulang-ulang kitab Fathul Qorib hingga khatam berkali-kali. Ini bukan sekadar transfer ilmu, melainkan simbol ketawadhuan seorang kiai sepuh yang senantiasa menjaga dasar keilmuan dengan penuh ketelitian, seolah mengingatkan kita bahwa bangunan besar bernama NU hanya bisa tegak jika fondasi fiqihnya kuat.

Jejak struktural beliau di PCNU Lampung Selatan adalah sebuah epik tentang kesetiaan. Beliau tidak pernah memburu jabatan, namun organisasi selalu memanggilnya untuk menjaga gawang Syuriyah.

Catatan pengabdian beliau adalah dokumen sejarah yang autentik:

Beliau memulai khidmah sebagai A’wan (1996–2001), sebelum akhirnya dipercaya mengemban amanah strategis sebagai Katib Syuriyah dalam dua periode berturut-turut berdasarkan SK PBNU Nomor: 223/A.II.04.d/IV/1998 dan SK Antar Waktu Nomor: 223-a/A.II.04.d/11/2000.

Kematangan manajerial dan kewibawaan spiritual beliau membawa amanah sebagai Rais Syuriyah melalui SK PBNU Nomor: 593/A.II.04.d/07/2003, bersinergi dengan karibnya, KH Mundhori Muslim.

Setelah menuntaskan tugas di garda depan, kearifan beliau terus dijaga dalam jajaran Mustasyar selama empat periode kepengurusan terakhir hingga saat ini, sebagaimana tertuang dalam SK 281/2008, SK 332/2014, SK 343/2019, hingga SK 350/2024.

Ada satu momen yang selalu diingat oleh para santri dan kolega beliau. Di sela-sela kesibukan musyawarah atau Bahtsul Masail bersama para kiai sepuh lainnya, Kiai Munandir seringkali berhenti sejenak untuk menyelipkan satu pesan pendek namun mendalam: "Alaykum bil Qona’ah" hendaknya kalian memiliki sifat qona’ah.

Pesan ini bukanlah sekadar anjuran moral, melainkan antitesis bagi penyakit modernitas: ambisi yang tanpa batas. Di tengah dinamika organisasi yang kian kompleks, Kiai Munandir mengingatkan bahwa kemuliaan ber-NU sejatinya terletak pada ketenangan batin dalam menjalankan amanah. Beliau mengajarkan bahwa jabatan di NU adalah beban yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan para pendiri, bukan komoditas untuk kepentingan sesaat.

Beliau adalah bukti hidup bahwa dengan jalan ngaji dan sifat qona’ah, marwah organisasi akan senantiasa terjaga tanpa perlu silau oleh riuh rendahnya cahaya panggung. Penempatan beliau di jajaran Mustasyar hingga periode 2024-2029 adalah bentuk pengakuan Jam'iyyah atas kearifan seorang kiai yang telah tuntas dengan dirinya sendiri.

Bagi kita, para kader penggerak, sosok Kiai Munandir adalah pengingat: Bahwa ber-NU adalah tentang menjaga api perjuangan para ulama, bukan sekadar menjaga abu sejarah. Dari beliau kita belajar, bahwa khidmah yang paling abadi adalah khidmah yang dimulai dengan niat yang murni dan dijalani dengan hati yang qona'ah.

"Ber-NU adalah soal stamina keikhlasan: Tetap mengaji di jalur kultural, tetap tegak menjaga marwah di jalur struktural."

Posting Komentar

0 Komentar