Ticker

6/recent/ticker-posts

MENANAM JANGKAR BELA NEGARA DI KEDALAMAN AKAR RUMPUT


Ada sebuah keteguhan yang terekam di tanah Palas, Lampung Selatan. Di saat banyak orang terjebak pada seremoni verbal dalam memperingati Hari Bela Negara ke-77, sebuah fragmen perjuangan sipil yang sangat terukur sedang dipentaskan. Hari ini, 19 Desember 2025, Kecamatan Palas kembali mengukuhkan dirinya sebagai "kawah candradimuka" melalui pembukaan Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU) Angkatan XXXVII.

Jika kita menggunakan kacamata sosiologis, apa yang terjadi di Palas bukan sekadar pelatihan organisasi. Ini adalah upaya "re-engineering" sosial. Kita bisa melihat catatan konsistensinya: dari Angkatan VI pada 2021 di Roudlotussolihin, naik ke Angkatan XXIII di Al-Ghozali pada 2023, hingga Angkatan XXXVII hari ini di SMP Plus Al-Qolam. Di sini, Palas bukan sekadar koordinat geografis, melainkan sebuah simbol keberlanjutan regenerasi penguasa opini di tingkat desa.

Pembukaan siang ini memberikan pemandangan yang menarik bagi para analis kebijakan publik. Kehadiran jajaran Forkopimcam—mulai dari Camat Palas Ibu Rosalina, M.Keb, Sekcam Bapak Suyadi, hingga Babinsa Serka Subur—adalah bentuk validasi negara terhadap ormas. Sinergi ini menunjukkan bahwa NU di tingkat basis tidak bergerak secara eksklusif, melainkan menjadi bagian integral dari sistem ketahanan nasional.

Ibu Camat Rosalina membawa dimensi humanis yang jarang tersentuh dalam diskusi bela negara yang kaku. Beliau melihat disiplin dan kesehatan personal sebagai fondasi. Bagi seorang praktisi kebijakan di tingkat kecamatan, melihat rakyatnya terorganisir dengan rapi dalam sebuah "majelis yang adem" adalah jaminan stabilitas sosial. Ini adalah bentuk civil society yang berfungsi sempurna.

Pesan kuat datang dari Ketua PCNU Lampung Selatan, H. Abdul Haris. Di era yang mendewakan statistik, beliau justru melontarkan antitesis: "Jumlah peserta bukan indikator keberhasilan." Ini adalah logika kualitas. Baginya, 45 peserta yang hadir harus "menetas". Dalam bahasa manajemen modern, ini adalah fokus pada outcome, bukan sekadar output.

Hal ini dipertegas oleh KH Nur Mahfudz, SE (Katib Syuriyah PCNU Lamsel). Beliau menarik garis historis yang tegas: bahwa PD-PKPNU adalah risalah yang menyambungkan "sanad" perjuangan. Bagi beliau, Bela Negara adalah kewajiban agama. Ketika seorang kader NU menjaga desanya dari radikalisme atau konflik horizontal, pada saat itulah ia sedang menjalankan tugas konstitusionalnya.

Satu variabel yang tidak boleh luput dari amatan adalah kedaulatan ekonomi. Militansi di Palas didukung oleh alat produksi: unit usaha percetakan dan sablon mandiri. Dalam perspektif ekonomi kerakyatan, ini adalah kunci. Dengan menguasai alat produksi atributnya sendiri, kader di Palas berhasil memutus ketergantungan modal pada pihak luar. Mereka tidak hanya mandiri secara ideologi, tapi juga berdikari secara finansial.

Tema Hari Bela Negara tahun ini, "Teguhkan Bela Negara untuk Indonesia Maju", menemukan bentuk paling konkretnya di Palas. Selama tiga hari ke depan (19-21 Desember), para kader ini akan digembleng dalam aturan ketat. Mereka akan pulang ke desa-desa di Lampung Selatan bukan hanya sebagai warga biasa, melainkan sebagai penggerak yang memiliki "kompas" ideologi yang jelas.

Jika Palas mampu mempertahankan ritme pengaderan seperti ini, maka stabilitas nasional sebenarnya sudah selesai di tingkat ranting. Selama ranting-ranting NU tetap kokoh dan bersinergi harmonis dengan aparatur negara, maka benteng pertahanan NKRI akan sulit ditembus oleh narasi apa pun. Lentera itu kini menyala di Palas, dan cahayanya cukup untuk menerangi peta masa depan Lampung Selatan.

Posting Komentar

0 Komentar