Dalam dialektika perjuangan Nahdlatul Ulama, jabatan boleh silih berganti, namun denyut kaderisasi tidak boleh berhenti. Di Kecamatan Tanjungsari, kita sedang menyaksikan sebuah fragmen istimewa tentang bagaimana estafet kepemimpinan berjalan beriringan dengan militansi yang terjaga, mulai dari PKPNU Angkatan X hingga PD-PKPNU Angkatan XXXIII.
Membaca kembali perjalanan kaderisasi di sini adalah membaca tentang loyalitas tanpa batas. Ada benang merah yang menghubungkan antara Sidomukti dan Desa Wawasan, yakni kehadiran para masyayikh yang tak pernah absen menjaga gawang ideologi demi kelangsungan hidup sebuah peradaban organisasi.
PKPNU Angkatan X yang digelar pada 18 s.d 20 Maret 2022 di Pondok Pesantren Al-Adnany, Sidomukti, adalah monumen awal yang begitu kokoh. Saat itu, MWCNU Tanjungsari dipandu oleh Kiai Asrul Wahid, S.Pd. Sinergi antara struktur MWC dan Pengasuh Pondok, Kiai Ahmad Ansori, menciptakan atmosfer kaderisasi yang sangat khidmat. Satu hal yang membuat Angkatan X ini begitu berwibawa adalah kehadiran KH Nur Mahfudz, SE. Kala itu, beliau hadir membawa marwah sebagai Ketua PCNU Lampung Selatan sekaligus terjun langsung sebagai instruktur. Beliau tidak sekadar memimpin dari balik meja, melainkan turun ke kelas untuk menginjeksi doktrin ke-NU-an kepada para peserta. Puncaknya, prosesi sakral upacara Baiat dihadiri langsung oleh Rais Syuriyah PCNU Lampung Selatan, Kiai M. Ishomuddin, yang memberikan legitimasi spiritual menggetarkan jiwa.
Ada fenomena sosiologis yang menarik di Angkatan X tersebut. Peserta bukan hanya datang dari Tanjungsari, melainkan meluas hingga Tanjung Bintang, Merbau Mataram, bahkan mencapai Bakauheni dan Lampung Tengah. Di sana, ego sektoral luruh. Tua dan muda melebur tanpa perlakuan khusus. Saat fajar menyingsing, semua bergerak bersama dalam agenda senam pagi di bawah langit Sidomukti. Menariknya, kedisiplinan fisik ini dipandu oleh instruktur dari unsur TNI (Babinsa), yang secara simbolis mempertegas bahwa nafas Aswaja dan Nasionalisme adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Di tengah kerumunan itu, ada sosok Mas Hamdani. Meskipun beliau adalah Anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan dan merupakan senior dari Angkatan V, beliau memilih menjadi bagian dari panitia. Sebuah pelajaran penting bahwa di NU, jabatan politik hanyalah instrumen, sementara pengabdian kepada kiai adalah tujuan yang abadi.
Buah dari pendidikan ini bukanlah tumpukan kertas sertifikat, melainkan kemandirian yang nyata. Pasca PKPNU Angkatan X, aura perubahan di Tanjungsari menjelma menjadi gerakan ekonomi dan infrastruktur yang konkret. Kini, MWCNU Tanjungsari telah memiliki Gedung Kantor MWC sendiri—sebuah simbol kedaulatan organisasi. Tak hanya itu, gerakan Koin NU melalui UPZISNU berjalan secara masif. Ini membuktikan bahwa setelah ideologi kader "dicuci" di kawah kaderisasi, mereka tidak lagi gagap dalam berkorban. Ekonomi umat bergerak dari akar rumput, membuktikan bahwa kemandirian bukan lagi sekadar jargon dalam pidato, melainkan realitas yang bisa disentuh.
Waktu terus bergulir, dan estafet itu kini sampai pada PD-PKPNU Angkatan XXXIII yang digelar pada 19 s.d 21 September 2025 di MTs/MA Ma’arif Desa Wawasan. Di bawah kepemimpinan baru Pak Susilo, S.Pd., marwah organisasi tetap terjaga dengan disiplin tinggi. KH Nur Mahfudz, SE, yang kini mengemban amanah sebagai Katib Syuriyah, tetap setia mengawal sebagai instruktur. Dan sebagaimana sejarah yang selalu berulang dalam kebaikan, Kiai M. Ishomuddin kembali hadir memberikan restu langitnya pada upacara Baiat. Tanjungsari telah menjadi laboratorium kaderisasi yang subur. Perpaduan antara keteladanan tokoh, militansi tanpa sekat jabatan, hingga suksesnya pembangunan fisik dan ekonomi adalah paket lengkap keberhasilan NU di tingkat basis. Sejarah telah mencatat nama-nama mereka yang berdarah-darah; pertanyaannya, akankah kita sekadar menjadi penonton atau menjadi bagian dari tinta emas perjuangan ini?
Tabik.

0 Komentar