Ticker

6/recent/ticker-posts

Membaca Ulang Warisan Hadratussyaikh: Dari Adab Menuju Persatuan

“Sesungguhnya persatuan, ikatan batin satu dengan yang lain, saling bantu menangani satu perkara, dan seia-sekata adalah merupakan penyebab kebahagiaan yang terpenting dan faktor paling kuat bagi menciptakan persaudaraan dan kasih sayang.”

— Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, Muqaddimah Qanun Asasi

Oleh: Edi Sriyanto

Setiap kali tanggal 25 Juli tiba, ingatan kolektif warga Nahdlatul Ulama kembali tertuju kepada Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari. Momentum ini menjadi kesempatan untuk membaca ulang warisan ilmu, adab, dan keteladanan yang beliau tinggalkan bagi umat dan bangsa. Di tengah derasnya arus informasi pada era digital, keteladanan Rais Akbar Nahdlatul Ulama tersebut dalam berilmu, beradab, dan merawat persatuan tetap menemukan relevansinya hingga hari ini.

Warisan pemikiran Hadratussyaikh berakar pada pembentukan karakter pribadi penuntut ilmu. Melalui karya monumentalnya, Adabul 'Alim wal Muta'allim, beliau menegaskan bahwa kemuliaan ilmu tidak dapat dipisahkan dari keluhuran adab. Bagi Mbah Hasyim, menuntut ilmu bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, melainkan proses menyucikan niat, membentuk akhlak, dan menumbuhkan tanggung jawab moral.

Keluhuran adab pribadi itu kemudian bertransformasi menjadi etika keilmuan. Dalam Adabul 'Alim wal Muta'allim, Hadratussyaikh menekankan pentingnya kehati-hatian intelektual, kerendahan hati, serta tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan.

Seorang alim maupun penuntut ilmu dituntut menjaga lisan, menyimak dengan saksama, menghormati guru, dan menyampaikan pendapat dengan kesantunan. Dengan demikian, ilmu tidak hanya melahirkan kecerdasan, tetapi juga kebijaksanaan dalam bertindak.

Nilai-nilai adab tersebut tidak berhenti pada pembentukan pribadi. Hadratussyaikh kemudian menerjemahkannya ke dalam kehidupan berjamaah melalui Muqaddimah Qanun Asasi. Di sana ditegaskan bahwa ilmu yang benar semestinya melahirkan persatuan, bukan perpecahan.

Karena itu, Adabul 'Alim wal Muta'allim menjadi fondasi etika personal, sedangkan Muqaddimah Qanun Asasi memperluasnya menjadi etika sosial dan kelembagaan. Keduanya membentuk bangunan pemikiran yang utuh: adab melahirkan ilmu yang benar, ilmu membimbing kebijaksanaan dalam bertindak, dan persatuan menjadi buah dari keduanya dalam kehidupan berjamaah.

Sejak berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari bersama para masyayikh meletakkan fondasi jam'iyah yang tidak hanya kokoh secara organisasi, tetapi juga kuat secara nilai.

Melalui Muqaddimah Qanun Asasi, beliau menegaskan pentingnya persatuan, ikatan batin, saling menopang, serta tanggung jawab moral sebagai landasan kehidupan berjamaah.

Nilai-nilai itulah yang kemudian menjadi ruh perjalanan Nahdlatul Ulama dalam mengabdi kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Kerangka berpikir Hadratussyaikh bermula dari adab, melahirkan ilmu, menumbuhkan persatuan, lalu bermuara pada kemaslahatan tetap relevan di tengah disrupsi digital dewasa ini.

Ruang digital menghadirkan kemudahan memperoleh dan menyebarkan informasi, tetapi juga membuka peluang lahirnya hoaks, polarisasi, serta fenomena pascakebenaran (post-truth), yakni keadaan ketika emosi, preferensi, dan opini pribadi lebih mudah dipercaya daripada fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam situasi demikian, warisan pemikiran Rais Akbar Nahdlatul Ulama menjadi semakin penting. Sikap tabayyun, rendah hati dalam berpendapat, menghormati otoritas keilmuan, serta mendahulukan kemaslahatan bersama merupakan wujud nyata penerapan adab di ruang publik digital.

Merawat warisan Hadratussyaikh tidak selalu dimulai dari langkah-langkah besar. Ia dimulai dari adab dalam mencari ilmu, adab dalam berbicara, adab dalam bermedia sosial, dan adab dalam merawat persaudaraan.

Sebab, selama adab tetap menjadi panglima ilmu, ilmu melahirkan persatuan, dan persatuan diarahkan bagi kemaslahatan, selama itu pula warisan Hadratussyaikh akan terus hidup


bukan hanya dalam lembaran kitab, melainkan dalam laku hidup warga Nahdlatul Ulama dan kehidupan kebangsaan Indonesia.

Pada akhirnya, membaca ulang warisan Hadratussyaikh bukanlah sekadar menengok sejarah, melainkan menghadirkan kembali nilai-nilai yang beliau wariskan agar tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Barangkali, inilah cara yang paling tepat mengenang Hadratussyaikh: bukan dengan kemeriahan seremonial, melainkan dengan menghidupkan adab, merawat persatuan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Tabik.

Posting Komentar

0 Komentar