Ticker

6/recent/ticker-posts

MENJAGA SANAD PERJUANGAN DI LAMPUNG SELATAN


Langit Lampung Selatan seolah enggan berhenti meneteskan duka. Sebuah kabar lelayu kembali mengetuk pintu kesadaran kita mengingatkan kembali pada hakikat paling murni dari sebuah pengabdian yang tak pernah mengenal kata usai.

Setelah kita kehilangan keteguhan H. Supriyanto, ketulusan Bunda Suharti, dan kemuliaan Kiai Abdul Halim yang menjadi paku bumi di Triharjo, kini satu lagi sosok pejuang khidmah terlepas dari pandangan mata, namun terikat erat dalam ingatan sejarah. Pada Kamis, 25 Desember 2025, Mas Muhammad Riyadh Nur Fathurrozi telah menjemput takdir kepulangannya.

Sebagai Kader Penggerak NU Angkatan XXIV, Mas Riyadh adalah representasi dari ruh yang bergerak di akar rumput; sebuah manifestasi dari janji setia yang diikrarkan di bawah naungan panji Jam'iyah. Kepergian beliau menjadi refleksi bagi kita semua, bahwa kekuatan sejati Nahdlatul Ulama tidak terletak pada hiruk-pikuk struktur, melainkan pada keteguhan hati para kadernya dalam menjaga marwah organisasi.

Kehadiran sosok-sosok pejuang ini dalam ingatan kolektif kita menegaskan bahwa pengabdian adalah sebuah kesinambungan yang tak terputus. Mas Riyadh kini telah menggenapi estafet perjuangan yang ditinggalkan para pendahulunya di Lampung Selatan, mengukuhkan sebuah tatanan nilai bahwa kemuliaan seorang kader diukur dari konsistensinya dalam berkhidmat hingga titik napas terakhir.

Selamat jalan, Mas Muhammad Riyadh Nur Fathurrozi. Engkau telah menyelesaikan tugas dengan penuh kehormatan. Terima kasih telah menunjukkan bahwa menjadi Kader Penggerak adalah tentang dedikasi yang nyata; tentang bagaimana menjaga amanah ulama dengan penuh integritas di tengah dinamika zaman.

Biarlah sejarah mencatat setiap langkah pengabdian ini sebagai amal jariyah yang terus mengalir. Sebab bagi seorang kader, akhir dari segala perjuangan adalah kepulangan yang terhormat dalam dekapan Jam'iyah, menuju rida Allah SWT.

Lahu Al-Fatihah.

Posting Komentar

0 Komentar