Pelantikan 37 pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kecamatan Sragi masa khidmat 2025-2029 di Madrasah Miftahul Ulum, Dusun Karang Jaya, Desa Baktirasa, Kamis (25/12/2025), bukanlah peristiwa organisasi yang biasa-biasa saja. Di balik seragam hijau yang berbaris rapi dan Mars Fatayat yang membahana, ada sebuah pesan besar yang sedang dikirimkan dari pelosok Lampung Selatan: bahwa perempuan muda NU bukan lagi sekadar pelengkap saf, melainkan subjek utama dalam transformasi sosial di akar rumput.
Satu hal yang paling mencolok dari perhelatan ini adalah hadirnya jajaran pemimpin desa secara lengkap. Bapak Sarna (Kades Baktirasa), Bapak Alex Sansu (Kades Margajasa), dan Bapak Sapriyadi (Kades Bandar Agung) hadir bukan sekadar memenuhi undangan protokol. Kehadiran mereka adalah pengakuan atas "legitimasi sosial" Fatayat NU.
Di era otonomi desa saat ini, sinergi antara organisasi perempuan dengan pemerintah desa adalah kunci. Pesan Kyai Sumari (Ketua MWCNU Sragi) agar Fatayat menjadi garda terdepan kemandirian ekonomi, hanya akan menjadi macan kertas tanpa dukungan kebijakan desa. Hadirnya para Kades ini memberikan harapan bahwa ke depan, program-program Fatayat baik di bidang kesehatan, pendidikan anak, maupun ekonomi kreatif akan mendapat tempat di meja-meja musyawarah desa (Musrenbangdes).
Kehadiran KH. Mukhlisin, M.Pd., yang merupakan Ketua MWCNU Kecamatan Ketapang sebagai pemberi Mauidhah Hasanah, memberikan dimensi lain: kekuatan jejaring. NU adalah organisasi yang diikat oleh ikatan emosional dan ideologis yang melampaui batas administratif kecamatan.
Dalam orasinya, beliau menekankan peran perempuan sebagai benteng moral. Namun, dalam konteks kekinian, "benteng" tersebut tidak boleh statis. Ia harus dinamis. Pesan dari Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Lampung Selatan tentang pemanfaatan teknologi untuk dakwah positif adalah "fatwa" modernitas bagi para kader. Sahabat Yuliana Dewi sebagai nakhoda baru bersama Tri Darmayanti (Sekretaris) dan Maskhana (Bendahara) memiliki beban sejarah untuk memastikan bahwa 37 pengurus ini tidak gagap menghadapi disrupsi digital.
Pemilihan Madrasah Miftahul Ulum sebagai saksi bisu pelantikan ini memiliki makna kultural yang dalam. Madrasah adalah rahim dari mana kader-kader NU lahir. Dengan memulai khidmah dari madrasah di dusun Karang Jaya, Fatayat Sragi sedang menegaskan identitasnya: bahwa setinggi apa pun mereka terbang dengan teknologi dakwah, kaki mereka tetap berpijak pada tradisi pesantren dan kecintaan pada tanah kelahiran.
Pelantikan ini adalah sebuah proklamasi. Bahwa di bawah terik mentari Sragi, telah lahir barisan perempuan yang siap menghibahkan waktu dan pemikirannya. Mereka bukan hanya menjaga tradisi yasinan dan tahlilan, tetapi juga bersiap menjawab tantangan ekonomi dan tantangan zaman.
Sebagaimana pesan penutup dari PC Fatayat, amanah ini adalah tentang menjaga kekompakan. Sebab, di NU, kita tidak sedang mencari "siapa yang paling hebat", melainkan "siapa yang paling banyak memberikan manfaat". Selamat berkhidmat, Sahabat. Jalan panjang pengabdian baru saja dimulai dari Dusun Karang Jaya.
Tabik.


0 Komentar