Ticker

6/recent/ticker-posts

BERPULANG DALAM DEKAPAN KHIDMAH: CATATAN SUNYI DARI SELATAN

 


"Puncak tertinggi dari sebuah pengabdian bukanlah saat kita diakui dunia, melainkan saat kita dipanggil pulang dalam keadaan masih mencintai apa yang kita perjuangkan. Berpulang dalam dekapan khidmah adalah ijazah kesetiaan yang sesungguhnya."

Hari ini, hati saya terasa begitu sesak. Kabar duka datang beruntun, seolah langit Lampung Selatan sedang ingin bercerita tentang kehilangan yang amat dalam. Belum habis rasa sedih saya saat mendengar H. Supriyanto (Wakil Rais Syuriyah MWCNU Tanjung Bintang) berpulang kemarin, pagi ini saya kembali tersentak oleh kabar kepergian Bunda Suharti, seorang srikandi penggerak dari Natar.

Bagi saya, berpulangnya dua sosok ini bukan sekadar kehilangan rekan organisasi. Sebagai orang yang ikut mengawal lahirnya kaderisasi di bumi Lampung Selatan sejak awal—sebagai kader penggerak pertama di tanah ini—saya melihat Bunda Suharti sebagai bagian dari nafas perjuangan yang selama ini saya jaga. Beliau bersama Kang Supri adalah buah dari benih-benih pengabdian yang dulu kita semai bersama dengan penuh tetesan keringat.

Saya mengenal mereka bukan lewat narasi besar di atas panggung, melainkan lewat keikhlasan yang mereka tunjukkan di akar rumput. H. Supriyanto, adalah sosok yang tenang namun kokoh menjaga marwah ulama. Sementara Bunda Suharti adalah bukti nyata bahwa semangat penggerak tak pernah mengenal batas; beliau adalah sosok keibuan yang istiqamah hingga garis finis.

Berpulangnya mereka berdua adalah pengingat tajam bagi saya pribadi. Saya melihat estafet khidmah ini berjalan dengan sangat syahdu sekaligus menyakitkan. Mereka telah menuntaskan tugas dengan sangat indah—meninggalkan dunia ini saat masih menggenggam erat panji Nahdlatul Ulama.

Ada rasa iri yang menyeruak di balik duka ini. Iri karena mereka berpulang saat masih mencintai organisasi ini dengan segenap jiwa. Saya membayangkan, di sana, mereka disambut dengan senyum teduh oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, diakui sebagai santri yang setia hingga napas terakhir. Sebagai kader pertama yang masih berdiri di sini, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan api yang mereka tinggalkan tetap menyala.

Selamat jalan, Kang Supri. Selamat jalan, Bunda Suharti. Terima kasih telah menjadi cermin bagi saya untuk melihat arti loyalitas yang sesungguhnya. Saya akan terus merawat serpihan semangat yang dititipkan.

Semoga lelah beliau berdua menjadi lillah, dan khidmah beliau menjadi jalan wasilah dalam meraih Ridho Allah SWT.

Sebab pada akhirnya, kita tidak sedang bertarung demi nama atau kedudukan. Kita hanya sedang mengumpulkan serpihan lelah, menjadikannya lillah, agar kelak khidmah ini cukup menjadi wasilah bagi kita untuk pulang membawa Ridho Allah SWT.

Lahu walaha Al-Fatihah.

Posting Komentar

0 Komentar